Welcome to 23

welcometo23

Rasanya baru kemarin saya masih bermain kelereng, menembak burung dengan ketapel, berburu ikan disungai, menjelajah luasnya persawahan, mengejar layangan putus, bermain bola ditengah hujan badai, sampai memanjat tingginya pohon kelapa untuk meneguk segarnya kelapa muda.

Waktu berjalan sangat cepat dibelakang sana, kenangan demi kenangan semakin menumpuk, seakan menjadi bongkahan pondasi yang membawa saya keatas, untuk menatap benih-benih kepastian masa depan. Saya tidak bisa lagi menggunakan kartu joker dengan mengadu masalah yang saya hadapi pada orangtua dan berharap masalah selesai tanpa saya menyentuhnya. Tidak lagi pantas bagi saya meminta uang untuk sekedar menikmati jajanan dipinggir jalan, atau bahkan menerima uang permen dari saudara Ibu atau Bapak. Saya tidak bisa lagi dengan seenaknya memanjat pagar kebun jeruk pak Tani betapapun segarnya sebuah jeruk di panas teriknya siang atau mencabut singkong tetangga untuk menemani api unggun untuk memecah dinginnya malam.

Sudah saatnya bagi saya untuk memberi bukan diberi, untuk mengerti bukan hanya ingin dimengerti, untuk bukan hanya mencintai tanpa mengerti pantaskah untuk dicintai, untuk mengabdi bukan malah korupsi, entah itu waktu, materi ataupun budi pekerti. Sudah saatnya bagi saya untuk memegang kendali perjalanan hidup saya dan bertanggungjawab sepenuhnya atas apapun yang saya lakukan.

Berkaca pada perjalanan saya dalam setahun terakhir, banyak kejadian yang bisa saya ambil sebagai bahan pelajaran. Salah satu pelajaran terbesar adalah saya merasa perlu untuk lebih serius. Karena rasa-rasanya selama ini saya belum memberikan sentuhan maksimal dalam menjalani hidup ini. Saya belum melihat semangat man jadda wa jadda hadir untuk membawa saya menuju keberhasilan seperti yang biasa diperagakan dalam film-film atau buku biografi orang-orang berhasil. Selain itu, musibah kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa saya awal Februari lalu juga membawa pelajaran penting betapa takdir-Nya tidak bisa diprediksi. Hal itu membuat saya harus bergegas, karena saya bisa saja berakhir sebelum selesai bersiap.

Hidup ini menjadi seperti dua sisi koin. Disatu sisi saya tidak tahu kapan saya akan berakhir, sementara disisi lain, saya ingin membahagiakan orangtua di dunia dan mendo’akan mereka agar mendapatkan surga. Saya juga ingin punya kesempatan untuk bertanya “Bersediakah ukhti menjadi ustadzah dirumahku?” hehehe … kemudian membangun keluarga SAMARA, mendidik anak-anak agar menyimpan kebaikan Al-Qur’an didalam dada mereka, sembari terus menebar manfaat di bumi-Nya dan berharap kami semua dipertemukan kembali dalam indahnya surga.

Benarlah memang, serius dengan semangat man jadda wa jadda dalam menjalani hidup adalah persiapan terbaik. Yang perlu diingat menuliskan pikiran-pikiran seperti ini tidak berarti apapun tanpa tindakan kongkrit alias action. Semoga Allah memudahkan saya untuk bertindak. Aamiin.

Welcome to 23 bro, be a man!

Nge-Date

Siapa yang nggak kepengin nge-date halal seperti ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s