Menuju 23 Part 4 – Big Crash

Have a Crash

Saya baru tersadar saat mendengar suara sirine ambulans yang sedang melaju, seketika itu juga saya merasa pusing dan mual luarbiasa bahkan saya sampai tidak mampu untuk membuka mata. Seperti di film-film, saya sempat menanyakan “Saya kenapa? ini dimana?” dan salah seorang menjawab “Tadi mas kecelakaan, dan ini sedang menuju rumah sakit”. Rasanya campur aduk mendengar jawaban itu.

Sesampainya di rumah sakit, berkali-kali saya muntah dan melihat darah bersama muntahan itu. Tidak hanya itu, darahpun terus menetes dari hidung saya. Spontan saya menangis dan bertanya dalam hati “Apa ini?” seakan tak percaya dengan apa yang saya alami. Saat itu saya tidak melihat satu orang pun keluarga, hanya ada seorang Ibu yang tidak saya kenal, yang subhanAllah ikhlas membantu membersihkan sisa muntahan dan darah disekitar mulut saya.

Tangisan saya semakin menjadi saat Ibu, adik dan saudara saya akhirnya datang beberapa jam kemudian. Waktu itu saya bernafas lewat mulut, karena hidung penuh dengan darah, aliran oksigen pun saya pindahkan ke mulut. Tidak banyak kata yang bisa saya katakan, segera saya genggam tangan Ibu kuat-kuat, satu hal yang terlintas dalam pikiran saya, “apakah saya akan selesai ya Allah?”.

Saya merasakan sakit, perih, dan risih luarbiasa saat mulut saya kering karena aliran oksigen. Kembali saya menangis tidak berdaya. Namun saat melihat Ibu terus berada disamping menemani, alhamdulillah saya merasa lebih baik.

Keesokan harinya, pihak rumah sakit merujuk saya untuk dipindahkan ke rumah sakit spesialis tulang, karena ternyata saya mengalami luka parah dibagian mulut dan perlu tindakan operasi. Mereka juga khawatir, saya juga cedera dibagian kepala karena hidung saya yang terus menerus mengeluarkan darah.

Kembali menggunakan ambulans, saya dan rombongan pergi menuju rumah sakit tujuan. Sesampainya disana para perawat memeriksa saya, tak lama kemudian mereka memeriksa kondisi kepala saya dengan melakukan foto rontgen.  Setelah melihat hasil rontgen, dokter mengatakan saya mengalami patah rahang cukup parah, karena rahang bagian bawah terdorong kedalam sehingga rahang atas dan bawah tidak lagi sinkron. Bahkan kata dokter, bagian atas rahang, dari kanan sampai kiri melewati bawah mata kemudian segitiga hidung dan melewati bawah mata sebelah kiri mengalami keretakan. Jadi jika saya mengalami benturan sedikit lebih keras lagi, tulang saya dari bawah mata dan hidung sampai rahang bisa terlepas dari tulang tengkorak!. Syukur Alhamdulillah, Allah tidak sampai mentakdirkan hal itu terjadi pada saya. Saya juga tidak mengalami cedera dibagian kepala, karena jika itu terjadi segalanya menjadi rumit. Sementara itu, pergelangan tangan kiri saya juga cedera, sendi pergelangan tangan saya hampir terlepas. Saya butuh nafas panjang untuk mencoba rileks. Saat-saat seperti itu tidak ada yang saya ingat selain “Takdir-Nya nggak bisa diprediksi”.

Dihari berikutnya, saya dioperasi. Operasi berjalan kurang lebih 3 jam, dari pukul 00.00 – 03.00 dini hari. Selama itu saya dibius total dan tidak merasakan apapun. Begitu saya sadar, rahang saya sudah disatukan melalui kawat yang saling berkaitan dari gigi atas ke gigi bagian bawah, sementara tangan kiri saya di-gips.

Siang harinya saat jadwal berkunjung, dokter menyuruh saya untuk menggerakan tangan yang ter-gips, dari membuka jari sampai mengepal beberapa kali. Kemudian menggerakan tangan ke depan, samping dan ke atas. Dengan gemetar sambil menahan rasa nyeri bercampur kram saya melakukannya sesuai petunjuk dokter. Saat saya mengangkat tangan keatas, tiba-tiba saya merasakan sakit luarbiasa dibagian bahu. Setelah dokter memeriksanya, ternyata salah satu tulang bahu kiri saya patah, dokter menduga sebelumnya tulang ini sudah retak, tapi karena terlalu fokus pada rahang dan pergelangan tangan, dokter tidak sempat memeriksa bagian bahu ditambah lagi saya juga tidak merasakan bahu saya sakit.

Semuanya panik, spontan saya lemas dan pasrah mendengarnya. Dokter mengatakan perihal operasi sebelum akhirnya mengatakan tidak masalah jika tidak dilakukan operasi, karena sebetulnya sebuah tulang yang patah dapat dengan sendirinya tersambung kembali, hanya saja penyambungannya tidak serapi dibandingkan dengan mengoperasinya. Saya memutuskan untuk tidak melakukan operasi karena selain harus membuka kembali rahang yang sudah disatukan (untuk kepentingan bius), dari segi biaya juga tidak bisa dikatakan sedikit. Saya pikir tidak masalah meninggalkan tanda kenangan dibahu.

Beralih ke bagian rahang. Sampai kondisi rahang pulih, saya belum bisa membuka mulut. Jadi untuk sementara, segala macam makanan harus dileburkan terlebih dahulu menjadi bubur halus, supaya bisa masuk kemulut tanpa saya membukanya atau mengunyah makanannya.

Selanjutnya, mulai banyak berdatangan sanak saudara yang menjenguk, dari yang sebaya sampai ibu-ibu satu geng pengajian Ibu saya juga tidak ketinggalan. Alhamdulillah baru kali ini—dan semoga sekaligus untuk yang terakhir saya dirawat di rumah sakit. Saya tersenyum dan bergumam dalam hati “begini ya rasanya sakit”. Saya merasa memiliki energi dan semangat tambahan, saat orang-orang menjenguk, saat orang-orang memberi dukungan dan bantuan do’a untuk kesembuhan saya. Saya merasa tidak sendiri, merasa tidak kesepian dalam menjalani cobaan sakit sepertiini, betapa Allah memang Maha Besar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik dunia maupun akhirat untuk mereka semua. aamiin.

Belakangan saya tahu, kecelakaan itu terjadi disebuah tikungan yang tidak terlalu tajam. Ketika itu saya dalam kondisi mengantuk dan tanpa sadar dari yang seharusnya sedikit membelok ke kiri, saya tetap lurus hingga ke kanan jalan dan tentu saja atas kuasa-Nya muncul pengendara motor lain dari arah berlawanan dan tabrakan pun tak terhindarkan. Saya menduga kami berada dalam kecepatan cukup tinggi karena menurut cerita kakak saya, motor kami sama-sama rusak parah terutama dibagian depan, sampai-sampai roda depan menyentuh mesin.

Beberapa hari selanjutnya saya diperbolehkan pulang oleh dokter.

Sesampainya dirumah saya baru menyadari sulitnya menikmati makanan seperti biasanya. Karena ternyata makanan apapun saat di-blender menjadi bubur rasanya menjadi berbeda jauh dari yang seharusnya. Belum lagi merasakan pahitnya obat yang terpaksa melewati jalan sepanjang lidah karena tidak bisa saya skip langsung ke pintu tenggorokan seperti biasanya, karena saya tidak bisa membuka mulut. Hal itu membuat saya khawatir jika saya muntah, karena otomatis muntahan tidak bisa keluar—jangan dibayangkan!. Sementara itu, saya juga tidak bisa seenaknya bermain air saat mandi, karena harus menahan sakit di bahu dan mengamankan gips dari air. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain bersabar dan ikhlas menjalaninya.

Keadaan ini membuat saya sadar, tidak ada yang kekal abadi didunia ini dan kesehatan adalah nikmat spesial dari tak terhingganya nikmat yang Allah berikan. Sekaligus saya juga sadar bahwa kesadaran seperti ini pun tidak hadir setiap saat, sangat memungkinkan untuk ada saatnya nanti saya lupa, saya lalai untuk bersyukur kepada-Nya yang anehnya karena terlena oleh nikmat-Nya yang lain. Sungguh hanya Allah Yang Maha Membolak-balikan Hati yang bisa menjaga dan melindungi hamba-Nya untuk selalu bersyukur kepada-Nya, untuk selalu mengingat-Nya, untuk selalu berlindung dan bergantung hanya kepada-Nya. Betapa manusia tak kuasa atas apapun.

Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kita semua dari lupa dan lalai kepada-Nya. Aamiin.

Masih Beruntung

Saya beruntung masih bisa beraktivitas hari ini

Bukan Behel

Mirip memang, tapi ini bukan behel

Lebih Enak Pake Kecap

Ini adalah bubur lanjutan untuk bayi rasa Tim Instan Ati Ayam setelah dicampur kecap

Rumahmu Surgamu

Pada akhirnya keluarga menjadi trigger untuk tetap tersenyum dan berjuang melanjutkan hidup ini dengan lebih baik

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. 94:6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s