Menuju 23 Part 3 – Have a new job

New Job

Akhir november 2012, saya memutuskan untuk mencoba petualangan baru dengan bergabung dengan perusahaan baru. Kali ini saya berkesempatan untuk menjadi seorang Junior Web Designer. Menjadi web designer bukan sebuah hal yang baru buat saya, karena saya sudah mengenal pekerjaan ini saat saya kuliah, belum sampai level mahir sih, tapi insya’Allah saya bisa beradaptasi dengan belajar lebih intens dan mengikuti dengan baik aturan main perusahaan.

Saya bekerja di Swevel Media, perusahaan mandiri yang selanjutnya tumbuh dan berkembang bersama ECC UGM, sehingga secara manajemen saya melebur menjadi karyawan ECC UGM, tepatnya Staf IT tanpa mengubah jobdesc yang saya miliki.

Hal pertama yang saya tangkap dari perusahaan ini adalah mereka sangat solid, saya seperti berada dalam keluarga besar yang saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Tidak ada jarak antara senior – junior, bahkan direktur – karyawan sekalipun. Mereka berprinsip bahwa “kita kerja bareng untuk kepentingan kita bersama. Tidak ada yang ekslusif. Kita adalah satu tim, saat yang lain jatuh, kita bantu dia berdiri”. Luarbiasa, saya beruntung bisa bergabung dengan perusahaan seperti ini.

Saya kembali merasa sangat beruntung, saat mengetahui ternyata mayoritas dari mereka termasuk orang-orang yang religius. Betapa tidak, saat adzan berkumandang, hampir semua karyawan berbondong-bondong menuju masjid untuk sholat berjamaah. Saya sempat tertegun, seakan-akan tidak percaya melihat pemandangan seperti itu. Saya benar-benar bahagiabisa bekerja bersama mereka.

Masalah justru timbul dalam diri saya sendiri, saya berangkat dengan skill yang belum mumpuni seperti teman-teman yang lain. Kadang saya ragu, apakah saya berguna buat perusahaan? Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah saya berusaha dengan sungguh-sungguh, jika saya belum mahir, maka saya harus belajar lebih keras, jika saya belum bisa menyelesaikan sebuah masalah sendirian, maka saya bisa meminta bantuan. Perkara hasilnya nanti seperti apa itu tidak penting, toh saya sudah berusaha, saya pikir itu lebih baik daripada tidak ada usaha sama sekali.

Sebagai penutup, ada baiknya saya mengambil pelajaran dari penggalan quotes dalam Negeri 5 Menara the Movie berikut.

Bukan masalah tajam atau tidaknya golok, tapi usaha yang sungguh-sungguhlah yang bisa memotong batang kayu yang kuat

Jelas, masalah seperti ini bukan dinilai dari teorinya, tapi yang terpenting pada prakteknya nanti adakah usaha yang nyata atau tidak?

Baiklah, kita lihat saja nanti. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s