Menuju 23 Part 2 – Masjid Muhajirin

Masjid Muhajirin

Saya merasa bahagia sempat akrab dengan masjid termegah di Permunas Condongcatur ini. Di masjid ini saya mengenal orang-orang yang gelisah saat berkumandangnya adzan, gelisah untuk segera melaksanakan sholat tepat pada waktunya, bahkan untuk sholat qabliyah. Perlu diketahui, jauh sebelum mengenal mereka, saya merasa orang yang tidak banyak tingkah, hidup saya lurus-lurus saja, kalem, saya tidak punya banyak masalah apalagi dengan tindakan kriminal, bahkan saya selalu berusaha untuk tidak meninggalkan sholat dan saya juga senang untuk sholat berjamaah di masjid, tidak sedikit teman-teman yang bilang saya orang ‘alim. Namun yang terjadi, melalui mereka, Allah membukakan mata saya lebih lebar akan indah dan luasnya islam.

Berawal dari tawaran remais masjid kepada saya untuk mengikuti kegiatan taddarus Al-Qur’an, perlahan saya mulai mengenal mereka. Saya sempat acuh dengan tawaran mereka, entah kenapa saya tidak terlalu tertarik dengan kegiatan semacam itu. Sampai kemudian mereka menawarkannya kembali beberapa hari kemudian, saya pikir daripada saya sungkan untuk berjamaah di masjid, lebih baik saya ikut bergabung dengan mereka. Hari itu juga, selepas sholat maghrib kami memulai taddarus bersama. Percaya atau tidak, saya merasa blank saat salah satu diantara mereka bertanya ide surah apa yang akan kami baca—saya baru menyadari ternyata saya belum akrab dengan nama-nama surah, tidak ada kata lain yang terucap selain “ngikut aja yang keluar dari mulut saya. Masalah belum berhenti sampai disitu, saat mulai membaca bersama saya mulai kikuk, “hey, gue jarang banget baca Qur’an!” pikir saya, tapi alhamdulillah, saya beruntung karena kami membaca Qur’an bersama-sama, jadi saya tidak terlalu “keliatan”. Sampai disni saya mulai ragu apa benar saya orang ‘alim?

Fantastic 4

Saya merasa “aman” saat membaca Qur’an bersama mereka :D

Menjelang bulan ramadhan, remais masjid kembali mengajak saya untuk ikut kegiatan ramadhan, kali ini saya tidak berani menolak, karena saya pikir tidak ada salahnya saya mencoba hal yang belum pernah saya lakukan sepanjang sejarah saya hidup, yaitu aktif di masjid. Akhirnya saya mengikuti rapat demi rapat yang remais adakan. Tidak ada yang spesial disitu karena saya benar-benar tidak tahu apa-apa, “gue ngikut aja” kalem.

Sepanjang ramadhan banyak pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan seperti:

Menjadi MC pada sholat tarawih dan sholat subuh.

Meski hanya menyampaikan beberapa pengumuman, ketidakbiasaan membuat saya kurang mulus dalam menyampaikannya. Saya juga melihat raut muka un-happy ketua takmir karena memang hasilnya cukup berantakan, but not so bad for rookie I think. :p

Taddarus bersama.

Saya pasrah, ketika taddarus kali ini tidak lagi membaca bersama tapi bergilir satu-satu. Hasilnya saya membaca Qur’an dengan sangat tidak lancar. Itu belum seberapa, kadang ada seorang bapak yang sangat kritis ikut bergabung dan sering menyalahkan (dengan lantang) saat salah satu peserta taddarus tersandung dalam bacaannya. Selain terbata-bata kadang saya juga sampai berkeringat, jika bapak ini hadir dalam taddarus. Berkali-kali saya terkena “tembakkannya”. -___-

Saya semakin tidak percaya saya orang ‘alim, kalaulah ini sebuah benda, lebih baik saya lempar keluar, dan jika ada yang bertanya “benda ini milik siapa?”, saya akan jawab “saya tidak tahu”. T_T

Melihat secara langsung kegiatan Super Anshol (semacam TPA untuk power rangers dan super hero lainnya :D )

Saya tidak menyangka para remais yang masih muda ini bisa mengumpulkan anak-anak cukup banyak dan kegiatan yang di jadwalkan pun berjalan cukup lancar, baik anak-anak maupun kami, semua senang, semua gembira.

Saya sering bengong bahagia melihat anak-anak ini berkumpul, mereka seperti membawa energi baru yang membuat saya lupa akan kompleksnya masalah-masalah kehidupan. Hehe..

Pada akhirnya saya mulai mengenal tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an saya yang berantakan.

Fenomena menertawakan dan diterwakan karena sama-sama belum bisa adalah salah satu hal yang membuat tahsin sangat menyenangkan untuk diikuti. Seiring berjalannya waktu, yang belum bisa akan kepepet untuk belajar lebih keras lagi, setelah peserta lain mulai bagus dan lancar bacaannya. :)

Muhajirin Mengajar

Melihat mereka, rasanya seperti nonton film secara langsung

Muhajirin Kids

Bisa dikatakan bahagia, bisa memotret anak-anak ini

Dari kegiatan-kegiatan itu saya mulai mengenal mereka lebih dekat. Saya mulai mengenal karakter mereka masing-masing, dan saya cukup terkejut saat mengetahui ternyata mereka semua memiliki karakter yang berbeda, nyaris tidak memiliki kesamaan, bahkan ada yang sampai berlawanan. Tapi saya kagum, saat mereka bertemu dan berkumpul bersama, tidak ada yang menunjukkan ekspresi perlawanan. Saya tidak melihat ekspresi seperti “ini gue, gue yang paling top disini!” atau varian kalimat ekspresif sejenis lainnya. Mereka terlihat solid, saling bahu membahu, dan saling melengkapi. Satu hal yang membuat saya sempat geleng-geleng kepala, ternyata mereka semua memiliki unsur konyol dalam diri mereka tanpa kecuali, yang kadang membuat saya tertawa lepas.

Betapa permata—meminjam kata ustadz Salim A. Fillah, saya bisa mengenal mereka. Alhamdulillah :)

Konyol

Satu diantara mereka adalah orang paling konyol sedunia. ckckckck

Best Friends

Semoga persahabatan ini tidak hanya di dunia, tapi juga di surga. aamiin

Selanjutnya saya mulai tertarik untuk mengikuti kajian-kajian islami yang ternyata banyak diadakan masjid-masjid di Yogyakarta, materinya pun beragam dari tahuiid, fiqih, sirah, tafsir, hadist, dan materi tematik lainnya. Saya belajar banyak dari kajian-kajian tersebut, dimulai dari kemurnian sebuah niat, bagaimana hidup seorang muslim yang sesungguhnya, luarbiasanya akhlaq Rasulullah SAW, pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, pentingnya amal yang dilandasi dengan ilmu, wawasan dari sejarah islam, sampai bagaimana memilih pendamping hidup bahkan cara mendidik anak dan masih banyak lagi yang lain.

Belajar Banyak

Setelah sarapan gudeg, biasanya kami berdua pergi bersama mengikuti KRPH

Sahabatmu Keluargamu

“Sahabatmu adalah keluargamu saat diperantauan” Kata salah seorang diantara mereka

Sampai disini saya belajar bahwa untuk menjadi seorang muslim tidak cukup hanya menjadi orang yang baik, tidak cukup hanya dengan tidak banyak tingkah, tidak cukup hanya bertindak lurus-lurus saja, tapi jauh dari itu bagaimana hubungan kita dengan Allah, bagaimana hubungan kita dengan sesama muslim sampai nonmuslim sekalipun dan tak kalah penting manfaat apa saja yang sudah kita lakukan sepanjang hidup kita, belum lagi apakah selama ini kita beribadah lillahi ta’ala atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Selain itu, sangat penting untuk melaksanakan ibadah dengan dilandasi ilmu, karena ternyata ibadah tanpa ilmu adalah sebuah kesiaan.

Ayah Kereen

Calon ayah-ayah kereen abad ini, insya’Allah :)

Sekarang saya menyadari bahwa, penting untuk menjadi ‘alim, menjadi shalih atau shalihah tapi justru sebuah jebakan batman saat kita merasa ‘alim, shalih atau shalihah.

Semoga Allah masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus belajar dan memperbaiki diri, sampai surga menjadi tempat kita kembali. Aamiin.

Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s