Karena melihat, mendengar dan merasakan juga sebuah pilihan

"Menyorot Mahasiswa Modern: Idealisme VS Pragmatisme"

Mandi lebih awal, sarapan lebih awal dan berangkat lebih awal dari anak sekolah lain pada umumnya adalah rutinitas pagi hari-hari sekolah yang saya lakukan. Pukul 5.30 saya harus sudah standby dipinggir jalan untuk menunggu Mikrobus yang baru berangkat narik dari desa sebelah. Terus terang saja, mikrobus jurusan Banjarnegara – Banyumas – Purwokerto ini menjadi satu-satunya andalan saya untuk berangkat ke sekolah (tanpa telat) dari Purbalingga ke Banjarnegara, karena waktu itu keluarga saya hanya memiliki satu motor, itupun dipakai oleh kakak saya untuk bekerja di Jakarta. Jadi otomatis dirumah tidak ada kendaraan untuk transport, yang kebetulan rumah saya terletak di desa yang cukup jauh dari jalan besar (Purbalingga – Banjarnegara) jadi butuh transportasi untuk sampai ke jalan besar kemudian disambung bus jurusan Purwokerto – Wonosobo. Perjalanan dari rumah sampai sekolah kurang lebih 1 jam, sedangkan bel masuk sekolah pukul 7.00. Kadang saya ketinggalan Mikrobus yang ternyata berangkat lebih pagi dari biasanya, itu adalah bencana! Karena transportasi pagi selain Mikrobus tadi adalah Mobil Angkot Purbalingga yang biasanya baru berangkat pukul 6.30. Pastilah saya telat sesampainya di sekolah. Bencana itu menjadi berlipat ganda jika terjadi pada hari Senin. Ya, upacara menjadi kegiatan rutin setiap hari Senin, dan siswa-siswa yang terlambat akan dikumpulkan kemudian dihukum untuk hormat ke tiang bendera selama 30 menit ditengah teriknya matahari menjelang siang, jika Senin pagi turun hujan, maka kegiatan upacara ditiadakan (well, tentu saja setiap telat di hari senin, saya selalu berdo’a untuk turun hujan!).

Kisah tersebut terlihat normal saja 5 tahun yang lalu saat saya masih duduk dibangku SMK. Bertemu teman-teman, belajar beberapa pelajaran dan guru favorit (Matematika dan Komputer), jajan bakwan kawi didepan sekolah dan tentu saja naik bus (yang kadang sampai balapan dengan bus lainnya) adalah bagian yang paling menyenangkan saat itu.

Cerita sedikit berbeda 1 tahun kemudian setelah kami anak-anak kelas 3 SMK harus bersiap menghadapi UNAS. Segalanya menjadi rumit karena bukan hanya menghadapi UNAS saja, tapi juga pikiran-pikiran tentang “mau kemana” setelah lulus SMK nanti. Saya harus kembali berterus terang bahwa saya galau, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan khususnya setelah lulus.

Alhamdulillah saya lulus UNAS dengan nilai yang cukup memuaskan. Setidaknya itu sedikit mengurangi kegalauan saya. Ada 2 ide yang saya miliki waktu itu, melanjutkan untuk Kuliah atau bekerja. Sebetulnya saya tidak terlalu sulit untuk menentukan pilihan (ide), karena saya prefer untuk bekerja terlebih dahulu, baru setelah itu kuliah. Tentu saja bisa ditebak jika saya memilih untuk langsung kuliah. Dan kebetulan, SMK tempat saya sekolah bekerja sama dengan beberapa perusahaan industri sehingga bisa dibilang untuk mencari pekerjaan tidak terlalu sulit. Namun, satu-satunya hal yang membuat saya ragu untuk bekerja adalah beredarnya cerita dari teman-teman yang pernah magang, tentang ketidaknyamanan bekerja diperusahaan-perusahaan tersebut.

Seperti membawa angin segar, ada info tentang pekerjaan yang nyaman dan dengan gaji yang besar. Info tersebut datang dari penyedia jasa pengiriman Tenaga Kerja Indonesia alias TKI ke luar negeri. Fitur-fitur dan adanya testimoni-testimoni dari para pekerja yang pernah bekerja disana yang ditampilkan di selembar brosur serta pamflet A3 di papan pengumuman sekolah cukup menarik perhatian saya. Saya langsung berunding dengan teman-teman lain yang juga terlihat tertarik. Waktu itu saya mengatakan kepada diri saya sendiri “Saya masih muda, banyak hal yang masih bisa saya lakukan, menjadi TKI diluar negeri pasti banyak pengalaman dan cerita menarik yang akan saya dapatkan”. Beberapa hari kemudian akhirnya kami memutuskan untuk mendaftar sebagai calon TKI. Setelah mengisi form pendaftar dan administrasi, kami melakukan Medical Checkup, 1 hari berikutnya. Medical Check Up adalah syarat terakhir sebelum membuat paspor. Hasil Medical Check Up diumumkan maksimal 1 minggu kemudian.

Saat menunggu hasil Chek Up, berita “besar” datang dari Ibu. Tentu saja dengan kuasa Allah SWT. Ibu berkata “Ibu mendapat pinjaman dari Bank untuk biaya masuk kamu kuliah”. Ya, saya ingat, meskipun saya sadar keadaan saya, saya sempat mengatakan keinginan saya untuk kuliah dengan “cukup” memaksa kepada Ibu. Kami sepakat, jika Ibu mendapat pinjaman dari Bank maka saya bisa kuliah, tapi jika tidak maka saya akan berangkat ke luar negeri sebagai TKI.

Singkat cerita, saya membatalkan menjadi TKI dan pergi ke Jogja untuk kuliah, dan alhamdulillah sekarang saya telah menyelesaikan studi S1 dengan waktu yang relatif singkat. Dan pelajaran berharga yang saya dapat adalah jika orang-orang mengatakan biaya kuliah mahal, “sangat berat”, itu kurang benar. Jika bersungguh-sungguh, kita bisa mendapatkan beasiswa, atau bekerja part time ataupun kegiatan lain untuk dapat meringankan beban biaya kuliah. Namun cerita tidak berhenti sampai disini, lulus kuliah “hanya” merupakan pintu gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya, kesuksesan dalam hidup, terutama sukses dari segi materi tetap menjadi idaman dan hal tersebut tetap menjadi momok yang sulit untuk ditaklukan oleh kebanyakan sarjana, tak terkecuali saya sendiri. Bingung mencari pekerjaan karena skill yang belum mumpuni, namun menginginkan cepat untuk meraih kesuksesan adalah problem lain yang sering “kami” hadapi. Iya, kami, para sarjana. Saya yakin banyak sarjana galau diluar sana. Sehingga banyak yang menghalalkan segala cara demi cepat meraih keberhasilan. Tapi tidak sedikit pula yang menikmati proses menuju keberhasilan, dengan berusaha sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik dalam setiap detail prosesnya.

Salah satu hal yang saya rasa menjadi nilai tambah orang yang kuliah dibanding yang tidak adalah pemikiran dan kedewasaan, meskipun hal itu tidak sepenuhnya benar,  karena saya memiliki teman yang tidak kuliah tapi memiliki pemikiran dan kedewasaan yang bagus dan sering saya jadikan sebagai pembelajaran. Jadi mungkin, bukan pendidikan yang membuat seseorang lebih dewasa dalam berpikir akan tetapi bagaimana dia di didik oleh lingkungan dan dirinya sendiri dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup yang dihadapinya.

Berawal dari memori waktu SMK serta pemikiran tentang kedewasaan itulah saya berusaha memberikan pendapat tentang “Menyorot Mahasiswa Modern : Idealisme VS Pragmatisme” dalam Blog Competition yang diadakan oleh ECC UGM.

Dalam kehidupan modern, dari sudut pandang saya sebagai (bisa dibilang) Mahasiswa, fenomena Idealisme dan Prgamatisme muncul tidak terlepas dari keadaan yang sedang terjadi didalam negeri ini. Indonesia bisa dibilang negara paling “klompit” se-dunia. Bayangkan saja berbagai suku, ras, budaya, agama, hingga orang berlabel kaya raya hingga sangat miskin serta property yang membersamainya (kebersihan lingkungan misalnya), semuanya ada di Indonesia. Kemajemukan tersebut menjadi masalah seiring dengan bagaimana setiap orang bersikap dan menyikapi. Apalagi dengan semakin populernya media sosial akhir-akhir ini, mudah sekali sebuah masalah tersebar luas. Sehingga kadang, masalah yang notabennya kecil, jika terus diberitakan oleh media masalah tersebut menjadi besar atau bahkan kompleks. Nah, saya akan mencoba untuk membahas masalah idealisme dan pragmatisme ini dari semakin populernya media sosial. Banyak hal positif yang bisa didapatkan dari media sosial akan tetapi hal negatif juga tidak kalah banyak.

Kemudahan dalam mengakses media, entah itu media cetak, televisi, apalagi jaringan internet membuat setiap orang mudah untuk “mengetahui apa yang terjadi” sekaligus untuk “memberi tahu apa yang sedang terjadi” entah itu penting, atau tidak penting. Contoh beberapa akibat dari cepat “mengetahui apa yang terjadi” dan “memberi tahu apa yang sedang terjadi” :

  • Populernya K-Pop di Indonesia (muncul Boyband, Girlband, dari dewasa sampai anak-anak)
  • Populernya bintang Youtube (banyak orang narsis di youtube, mungkin berharap untuk menjadi terkenal)
  • Populernya Isue (isue-isue cepat menyebar ke segala penjuru dengan mudah, sehingga masyarakat mudah terprovokasi)

Kita pernah merasakan bahwa, dulu, anak-anak akan menyanyikan lagu anak-anak, begitu juga dengan remaja dan dewasa juga akan menyanyikan lagu “sesuai” dengan usia mereka. Media memudahkan masyarakat untuk mencontoh (baca: mengikuti) sesuatu. Semakin melunturnya jati diri masyarakat Indonesia,  semakin memperparah keadaan. Apa yang kita dengar dan lihat di media akan menjadi sangat berpengaruh bagaimana kemudian kita bersikap. Sikap kita ini kemudian yang membedakan apakah kita menjadi orang yang idealis ataukah pragmatis. Idealis akan lebih menghargai proses, karena menurutnya “kepuasan” bukan terletak pada hasil, tetapi pada proses yang dia jalani. Sementara pragmatis cenderung menginginkan yang instant, dia kurang menghargai proses, hasil adalah segala-galanya untuknya, sehingga banyak dari mereka yang menghalalkan segala cara agar tujuan mereka “cepat” tercapai. Orang-orang idealis selain menginginkan juga memantaskan, sedangkan pragmatis menginginkan tetapi kurang memantaskan diri. Maksud saya begini, idealis dan pragmatis merupakan sisi yang berlawanan namun memiliki tujuan yang sama yakni kesuksesan. Contohnya internet, dari segi kemanfaatan dan kemudharatan (kesia-siaan), internet bisa dibilang seperti koin yang memiliki sisi depan dan belakang yang berbeda, kita bisa mencari banyak hal positif disana tetapi kita juga bisa mencari hal yang sebetulnya sebuah “hiburan sementara” tetapi justru dijadikan kegiatan rutin. Contohnya saja nge-game online dan mantengin jejaring sosial yang sepertinya memiliki porsi waktu yang lebih banyak dibandingkan kegiatan lain yang seharusnya bisa lebih produktif. Belum lagi media televisi, yang semakin banyak menampilkan acara-acara yang tidak mendidik. Acara musik, infotainment, sinetron, acara humor yang kadang dikemas dengan tanpa konsep yang jelas alias nothing, bahkan acara beritapun lebih banyak memberitakan berita buruk dibandingkan berita baik (bad news is good news).

Memang, dilihat dari segi produktifitas, acara-acara tersebut patut di acungi jempol, contohnya saja musik, banyak sekali lagu-lagu baru yang muncul, cuma sayangnya tidak diikuti kualitas yang baik, belum lagi temanya yang tidak jauh dari cinta, well kalau bukan tentang jatuh cinta pasti tentang problem cinta, entah itu ditinggal pergi, tidak bisa memiliki, patah hati dan sebagainya.  Berikutnya infotainment, yang banyak mengorek-ngorek hal-hal yang  bisa dibilang tidak penting, seperti artis yang membeli sepatu baru, artis sedang sariawan, rambutnya rontok, hehehe… sedang berantem dengan kekasihnya, sampai yang lebih berat lagi, perceraian, perselingkuhan, penganiayaan dan sebagainya, it’s fine kalau itu hanya ditampilkan sesekali sebagai “penetral” berita-berita berat, tapi kalau temanya itu-itu terus tentu menjadi sangat tidak mendidik untuk para penontonnya. By the way, yang lebih tidak mendidik lagi adalah sinetron, yang kebanyakan jauh dari fakta yang sebenarnya terjadi, kita semua tahu orang yang hidup sederhana jauh lebih banyak dibandingkan yang hidup dikelilingi kemewahan. Tapi dalam sinetron, yang diceritakan didalamnya tentang anak yang ayahnya memiliki perusahaan besar di jakarta, pergi ke sekolah naik mobil mewah, rumahnya yang luar biasa “gedhe”. Belum lagi tentang ceritanya yang sangat tidak mendidik, seperti kisah anak orang kaya yang ngece temannya yang miskin bahkan kadang diperagakan oleh anak-anak, anak yang tidak sopan terhadap orang yang lebih tua, keluarga yang berebut harta warisan, anak yang ketuker, 2 orang yang jatuh cinta pada satu orang yang sama, pemeran utama yang terkena penyakit berat padahal hidupnya kekurangan, dan yang paling sering dicontoh oleh para generasi muda adalah lifestyle yang keren, uptodate. Saya ingin bertanya “Apa yang bisa diambil, lebih tepatnya manfaat apa yang bisa diambil dari cerita-cerita seperti itu?” saya yakin banyak dari kita menjawab sama sekali tidak mendidik.

Berita baiknya, meskipun sedikit, ada beberapa acara positif yang sangat mendidik, menginspirasi, seperti misalnya Kick Andy Show, Young On Top, Bolang, Unyil, Orang Pinggiran, jejak petualang dan lain-lain. Acara-acara tersebut memberikan tontonan yang menarik, yang dikemas bukan hanya sebagai hiburan belaka tetapi juga mendidik, menginspirasi para penontonnya. Sebenarnya banyak acara-acara pendidikan di TVRI misalnya, sayangnya acara tersebut dikemas dengan kurang menarik bahkan channel itu sendiri kurang menarik bagi penonton, khususnya generasi muda.

Pada akhirnya, dua sisi yang berbeda dari media tersebut menjadi pilihan yang sepenuhnya diberikan kepada kita. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya, memilah-milah mana yang sebenarnya kita butuhkan dan mana yang sebenarnya kurang atau bahkan sama sekali tidak kita butuhkan. Karena hidup adalah pilihan, barangkali, segala permasalahan hidup pada akhirnya dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Apa yang kita pilih sangat mempengaruhi mindset kita untuk memutuskan pilihan-pilihan yang akan timbul selanjutnya. Belum lagi terkadang, banyak pilihan-pilihan yang sulit kita putuskan (sulitpun sebetulnya juga sebuah pilihan), hal tersebut sering membuat kita berangan-angan, “jika saya memilih ini maka seperti ini, jika memilih itu maka seperti itu”. Tidak dipungkiri, saya juga terkadang lebih banyak terbuai untuk berangan-angan tentang keberhasilan hidup (impian) dibandingkan melakukan tindakan untuk bergerak menuju impian. Saya merasa beruntung, karena proses yang saya jalani cukup membuat saya sadar bahwa proses itu justru lebih penting dibandingkan dengan hasil, seperti yang pernah saya tulis dalam Hasil akhir nggak penting! dan Pelajaran futsal. Contohnya cerita semasa saya SMK yang saya uraikan diatas, seringkali itu menjadi dopping untuk semangat berjuang menuju kesuksesan. Walaupun kadang dopping tersebut tidak selalu berfungsi, setidaknya memiliki dopping sudah lumayan dibanding tidak memilikinya.

Idealis dan pragmatis menurut saya sesuatu yang sangat kompleks, namun intinya mereka itu datang dari keputusan pribadi masing-masing dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, khususnya dikehidupan yang modern ini.

Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan sejatinya juga merupakan sebuah pilihan. Apapun masalahnya, solusinya kembali ke pribadi masing-masing. Disadari atau tidak, sebetulnya masalah muncul bersamaan dengan solusinya, segalanya tersedia di sekeliling kita. Hanya saja memang solusi tidak muncul begitu saja, perlu adanya proses untuk menemukannya, dan proses untuk menemukannya membutuhkan ilmu, membutuhkan pengalaman, membutuhkan pedoman, membutuhkan contoh. Mungkin dalam perjalanannya nanti, sifat idealis atau pragmatis ini menjadi relatif, yang akan berkembang silih berganti mengikuti pilihan-pilihan hidup yang kita pilih. Oleh karena itu, penting untuk kita mengkritisi diri untuk terus memahami dan mempelajari lingkungan, mencari ilmu dan wawasan untuk memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi. Bagaimana caranya? Seperti yang saya kemukakan diatas, contohnya media. Media sudah memberikan pilihan dari yang tidak bermanfaat sampai yang bermanfaat, tinggal bagaimana kita memilih yang bermanfaat atau yang tidak?

Apapun problem yang kita hadapi, khususnya di jaman yang serba modern seperti ini, selama ada orang yang memberi inspirasi, saling sharing pengalaman, memiliki peduli terhadap sesama dan hal baik lainnya, sepertinya kita tidak perlu untuk merasa khawatir yang berlebihan. Jika dibilang khawatir, satu-satunya hal yang seharusnya membuat kita khawatir adalah diri kita sendiri. Bagaimanapun orang lain sampai kapanpun akan tetap menjadi orang lain, sesukses apapun mereka, mereka tidak akan menjadi diri kita bukan? Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan, adalah memilih pilihan yang menuju kesuksesan kita, sukses bukan hanya tentang materi (rumah besar, perabotan lengkap, mobil mewah, banyak uang) tapi jauh diatas semua itu adalah kebahagian dan ketenangan dalam hidup. Saya yakin, semua orang sudah mengerti apa saja pilihan-pilihan yang bisa membawanya kepada hidup tenang dan bahagia, dan sebaliknya kita semua juga mengerti pilihan-pilihan yang membawanya kepada kesengsaraan dan ketidaknyamanan hidup.

Kesimpulannya segalanya kembali kepada pilihan bukan? Dan petunjuk untuk memilih yang paling TOP adalah Allah SWT. Saya percaya, orang yang religius akan lebih tenang dan bahagia dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, penting untuk kita kembali dan berserah diri kepada-Nya. Karena manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Semoga kita selalu dibimbing-Nya untuk terus berada dijalur yang benar, jalur yang di ridlhoi oleh-Nya. Aamiin.

One response to “Karena melihat, mendengar dan merasakan juga sebuah pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s