Anak kecil yang ‘pintar’ sekali

via Darwis Tere Liye

ada seorang anak kecil, dia ini pintar sekali, seluruh kampung tahu dia pintar.

“woi, kenapa kalian tidak bantu2 gotong royong? bersihin got kampung?” dia berseru kepada kerumunan anak2 sepantaran dia yg asyik main bola. “kalian harusnya bantu orang2 gotong royong. bukan main bola.” anak kecil ini berseru lagi, lantas beranjak pergi.

“woi, kak, kenapa

 nenek2 itu tdk kakak bantu nyeberang jalan? kan kasihan?” dia berseru kepada kerumunan remaja yg sedang nongkrong main kartu. “kakak nih harusnya bantu, bukan main kartu terus.” anak kecil ini berseru lagi, lantas beranjak pergi.”woi, pak, kan kasihan itu buah mangganya berjatuhan.” dia berseru kepada bapak2 yg sedang asyik ngobrol di warung kopi, menunjuk ke seseorang yg sedang mengangkat karung berisi mangga, terlalu berat, isinya berjatuhan tumpah. “bapak2 nih harusnya bantu dong, kayak nggak punya hati nurani saja.” anak kecil ini berseru lagi, lantas beranjak pergi.”woi, bos, kan kasihan dia,” dia berseru2 kepada seseorang yg sedang sibuk menggotong korban kecelakaan, “jangan cuma dibawa ke rumah sakit, bayarain juga dong ongkos berobatnya. keluarganya juga disantuni. kalau cuma bantu gendong doang ke ambulans itu baik hatinya cuma setengah2. tulus ihklasnya cuma separuh.” anak kecil ngomel lagi, lantas beranjak pergi.

“woi, oom, lantas apa yg oom telah berikan kpd kampung kami?” dia berseru kpd wartawan yg barusaja meliput berita hebat di kampung itu, “om kan jd naik pangkat, naik gaji gara2 meliput kampung kami? oom kan sudah mengeduk pundi2 uang dr kampung kami, lantas apa yg om telah berikan ke kampung kami?” anak kecil ini berseru lagi, lantas beranjak pergi.

itulah anak kecil yg terkenal pintar di kampung itu. terkenal pintar ngomong doang.

dia sejatinya tdk pernah ikut gotong royong, membantu nenek menyeberang, merapikan mangga, menggotong korban kecelakaan, atau berbuat sesuatu utk kampungnya. itulah anak kecil yg pintar sekali. kalau dia hidup di jaman modern, dia boleh jd sibuk nge-twit, sibuk pasang status fb, sibuk bikin notes, blog, sibuk komen di forum2, apa saja tempat dia bisa cari perhatian dan exis. tapi hanya sibuk ‘jarinya’ doang–sbg pengganti mulut. protes sana, ngritik situ, ceramah apalah, dsbgnya–dan sialnya, dia nih tidak merasa sama sekali.

*setiap kali saya merasa, apakah yg telah saya lakukan ini kongkret atau tidak, nyata atau tidak dampaknya, sy selalu membaca ulang notes ini. sy selalu khawatir, jangan-jangan saya-lah salah satu anak kecil itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s