Kurang Cerdas!

Minggu pagi enaknya bermalas-malasan, bangun di siangin, bertawaqal untuk setia dengan selimut, pikirku waktu masih SD dulu ( Jangan ditanya sekarang, RAHASIA :p ).

Jam 10an hampir jam 11 pagi saya terbangun, karena signal network baru yang konek sampe ke mimpi.. hehehe.. sepertinya ada “sesuatu” di meja makan. Ternyata Ibu say tercinta sedang menghidangkan masakan.

Gak pake kebelakang kebelakangan, dari kasur langsung terbang ke meja makan.. ngindarin pintu, kordeon, kursi, daan tembok, wuzzzz….

Disana terhidang mendoan, sayur kacang panjang plus ikan keranjang, dan se”ceting” nasi diikuti tumpukan piring, disebelahnya tempat sendok-garpu dan disampingnya ada deretan gelas siap pakai.

Seperti biasa, gak ada rumus khusus atau teori baru, setelah mengkombinasikan apa yang ada di meja makan, kemudian secara perlahan, suap-demi suap, semuanya (kecuali piring, sendok, garpu dan gelas tentu saja, sorry saya bukan d’bus) masuuuk dengan baik kedalam perut saya yang tergolong kecil.

Setelah makan, (saya lupa, udah mandi duluan apa belum nih) tiba-tiba saya berada di depan rumah temen, sedang main kelereng. Main kelereng sudah menjadi wajib’ain dalam kegiatan kami sehari-hari. Setelah beberapa lama, saya berkata kepada semuanya yang ikut main “udahan ah, maleess” kata classic yang biasa saya lontarkan ketika saya mengalami–sedikit–kekalahan.. hahaha. Tentu saja kalimatnya menjadi 360derajat saat saya menang, tak satupun boleh berhenti sampai saya puas (egois yaa? Bodo amat! :D )

Setelah berhenti, kami tertarik dengan warna merah yang berbaur dengan warna hijau yang terlihat diatas genteng. Ada pohon jambu air dibelakang rumah temen saya, sedang berbuah sangaaat banyak. Tanpa berhitung kami langsung berlarian menuju pohon jambu air itu. Semuanya ikut memanjati pohon jambu air itu.

By the way, makan jambu sambil manjat di pohonnya adalah kenikmatan luar biasa. Rasanya bahagiaaa deh pokoknya. Setelah kenyang, kami semua turun sambil membawa bekal jambu di kantong kami masing-masing. Tidak jauh dari pohon jambu itu adalah tempat biasa kami nongkrong (bukan nongkrong yang itu, maksudnya nongkrong buat ngobrol, konyol2an dsb).

Sebagian besar penduduk desa kami adalah bekerja sebagai pembuat gula jawa atau gula merah. Salah satunya adalah orang tua temen saya. Mereka biasa membuat gula jawa untuk dijual ke warung-warung. Untuk membuat gula jawa, seperti juga yang lainnya mereka menggunakan tungku dan kayu bakar. Sama seperti sebuah pabrik, pembuatan gula jawa juga menghasilkan limbah, salah satunya adalah abu bekas pembakaran kayu bakar. Kebetulan tempat pembuangan abu bekas pembuatan gula tadi, tepat berada di samping tempat nongkrong kami.

Tiba-tiba saya punya ide, “bagaimana kalau kita terjun ke kumpulan abu itu teman-teman?”. Pikir saya waktu itu pasti kereen terjun ke kumpulan abu, kemudian abu itu akan menyebar kemana-mana seperti seorang raksasa yang terjun dari langit, kemudian tanah-tanahnya melekar, merebah kesegala arah.. bummmmm! :D

Semuanya serentak menjawab “Baik”. Tapi ternyata belum selesai, “Tapi kamu dulu yang terjun!” mereka melanjutkan. Tanpa pikir panjang, karena memang saya seorang yang pemberani dan tidak takut (salah satu prinsip saya J dan juga tagline sebuah produk sabun haha) saya sanggupi syarat mereka untuk terjun duluan.

Setelah saya mengambil posisi siap, kami berhitung “1… 2… 3..!! “ dihitungan ke 3, saya terjun.. bummmm.. seperti dugaan saya abu-abu itu bertebaran kemana-mana, kesegala arah.. WOWWW its AWESOME! Hahaha..

Tapi tunggu sebentar, beberapa detik setelahnya saya merasa ada aliran panas.. hey kaki saya panas!!! Ya Alloh ternyata abu itu masih belum lama, alias masih panas!!. Spontan saya langsung lari dengan kecepatan 45,52 km/jam (siapa yang ngukur??? Nggak usah dipikir.. hahaa)  menuju rumah Nenek saya yang berada di depan rumah temen saya. Saya langsung menuju sumur, menimba air cepat-cepat dan menceburkan kaki saya “keduanya” kedalam ember.. besssshhhh.. rasanya dingin, segerrr bangeeet.. tapi lama-lama perih. Sambil berteriak kesakitan (atau mungkin dengan menangis saya lupa) saya memanggil-manggil nenek saya. Temen-temen saya ikut histeris dan terlihat cukup panik melihat saya mereng-reng kesakitan. Setelah kami bercerita singkat apa yang terjadi, nenek saya langsung mengguyurkan minyak goreng sambil mengusapkankannya ke semua sudut kaki saya. (Semoga Alloh menempatkan beliau di tempat yang terbaik disisi-Nya, di surga-Nya Insya Allah, amiiin. Beliau adalah nenek yang sangat baik dan lucu, amat menyenangkan).

Kaki saya masih sakit, meskipun sudah lumayan agak ademm. (saya tekan forward saja ya biar cepet).

FORWARD >>>

Pagi harinya saya kaget, disekujur kulit kaki saya (mata kaki ke bawah) timbul balon-balon air yang mengerikan! Rasanya perih bukan main saat kaki di gerakkan. Tak tahan dengan perih yang berasa panas, saya berinisiatif untuk mengambil pasta gigi di kamar mandi, kemudian mengusap-usapkan pasta gigi itu kesekujur balon-balon air yang berada di kaki saya dan sekitarnya. Rasanya nyesss, adem, dingin, semriwing, tapi tetep berasa perih dan panas. Ahhh rasanya berantakan sekali.

Akhirnya setelah kurang lebih 3 hari, balon-balon itu mengempes, dan sudah tidak terasa perih dan panas. Sekarang berjalan terasa lebih normal. Sekira 1 minggu selanjutnya, Alhamdulillah kaki saya sembuh. Dan cerita selanjutnya kembali ke paragraf awal sampai ke paragraf 8. Paragraf setelah 8 akan dinamis tergantung mood. Haha

Baiklah, memutuskan untuk terjun kedalam abu yang masih cukup panas adalah keputusan yang kurang cerdas dan perlu dipikir ulang kembali.

Namun begitulah semangat anak-anak, mereka tidak pernah peduli pada resiko apapun yang akan terjadi, mereka sangat menyukai tantangan, bereksperimen, berani dan tidak takut dengan resiko apapun. Luar biasa.

Seharusnya kita masih terus memelihara pemikiran positif saat kita masih anak-anak, kita selalu berpikir bahwa “Tugas kita bukan untuk BERHASIL, tapi untuk MENCOBA, karena mencoba adalah sebuah kebahagiaan, kepuasan”.

Mungkin, kita tidak perlu berpikir (terlalu) cerdas untuk menganalisa sebuah ide dengan detail kemudian berusaha keras untuk membuktikan bahwa ide itu tidak kurang bagus, karena sangat beresiko.

Resiko apaan sih? Kaki kena panasnya abu? Buktinya saya bisa sembuh gak ada dalam seminggu, cukup dibantu sama petugas puskesmas. Kalah bermain kelereng? Buktinya beberapa hari selanjutnya saya menang  telak.

Hal yang mungkin terjadi selanjutnya adalah saya bisa saja terjatuh saat memanjat pohon; saya bisa terjatuh saat berlari dengan kecepatan 45+ km/jam; saya bisa saja ketimpa ember sumur timba saat menimba, karena kurang berhati-hati.

Kesimpulannya, selain mencoba kita juga harus berhati-hati, belajar dari kesalahan, kemudian mencoba lagi, lagi dan lagi sampai kita merasa “cukup” dan sepertinya “perlu mencoba hal lainnya”. Insya Allah. :)

Jadi apa yang bisa kita COBA hari ini??

Terjun kedalam lumpur kayaknya empuk… atau berseluncur diatas tanah lereng gunung yang  terjal dengan menghindari pepohonan, merasakan hentakan gumpalan tanah, say hello kepada hewan2 yang menonton, kemudian mengerem dengan meraih rumput kesegala arah.. hahhah *jadi inget bolang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s