She’s an Angel

Besok adalah hari yang bersejarah buat kami anak-anak kelas 6 SD N 2 Kedunglegok. Tak berselang lama setelah pengumuman kelulusan kami, saatnya kami mendaftar ke tingkat berikutnya, SMP. Serentak kami semua tak terkecuali akan mendaftar di SMP N 1 Kemangkon—SMP terfavorit, tentu saja seantero kecamatan Kemangkon :D, yang kurang lebih berjarak 3 Km dari SD kami. Rencananya kami akan berkumpul pukul 6.30 di SD, untuk mendengarkan penjelasan persiapan pendaftaran SMP oleh guru Wali Kelas 6, Pak Sukirman. Pukul 7.30 kami harus sudah berada di SMP N 1 Kemangkon, supaya kami lebih leluasa mendaftar saat sampai disana nanti.

Pak Sukirman, beliau adalah guru paling favorit di SD N Kedunglegok semasa gue sekolah disana dan mungkin sampe sekarang. Salah satu guru yang paling kereen dalam memberi materi pelajaran, terutama pelajaran Matematika dan Keterampilan. Mungkin nanti akan gue bahas salah satu guru terbaik yang pernah aku temui ini di rubrik episode tentang Guru. Mata gue sampe “ber-air” inget betapa hebatnya beliau..

Malam harinya, aku menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk persyaratan pendaftaran. Seperti fotokopi Ijazah, pas foto 3×4, formulir pendaftaran SMP N 1 Kemangkon, semuanya aku siapkan di stopmap warna merah. Setelah memastikan semua dokumen lengkap, aku bergegas istirahat agar besok tidak kesiangan.

Matahari sudah menampakan sepertiga tubuhnya saat aku terbangun. Jam menunjukkan tepat pukul 6.30, aihh aku kesiangan!. Di lain tempat, seperti biasa, meja makan sudah siap dengan Paket Sarapan. Ibuku selalu menyiapkannya setiap pagi hari sekolah tanpa pernah kesiangan. Tapi rasa-rasanya semuanya menjadi serba mepet buatku, harus cepet. Bangun dari tempat tidur, aku langsung “terbang” ke bathroom untuk mandi dan gosok gigi. Tidak butuh bermenit-menit untuk mandi, sekelebat saja aku sudah siap untuk berseragam kebesaranku, Putih-Merah.

“Ayo sarapan dulu” kata Ibu, dengan suara lembutnya.

“Nggak Bu, aku sudah kesiangan!?” kujawab sambil memakai sepatu.

“Uang sakunya mana Bu?”

“Aduuh, maafkan Ibu, Ibu lagi nggak punya duit”

“Ahhh Ibu, SMP Kemangkon kan jauh Bu, masa aku nggak jajan?! Capek!” keluhku ketus.

“Kamu bawa bekal sarapan aja? Nanti kan kamu bisa makan disana.” Jawab Ibuku dengan “tetap” lembut.

“huhhhh.. nggak! Malu sama temen-temen, masa’ yang lain pada jajan aku malah bawa makan sendiri”

……………………………………………….

Aku marah-marah, sampai akhirnya Ibu sedih dan matanya merah, terlihat air matanya siap untuk jatuh. Tanpa cium tangannya dan mengucapkan salam, aku menuju ke sepedaku, bergegas menuju SD.

Cerita aslinya nggak gitu sih, gue udah lupa kayak gimana. Pokoknya pagi itu sebelum mendaftar SMP, gue membuat Ibu sedih. Ahhh betapa teganya gue…

Teman-temanku dan Pak Kirman (panggilan Pak Sukirman) sudah ready di Kelas 6, saat aku sampai di sekolahan, jam menunjukkan pukul 6.45. Aku langsung merapat begitu masuk ke Kelas, menuju bangku tengah tepat disamping sohibku dari TK, Wisnu. Pak Kirman menjelaskan tatacara mendaftar dan menyelesaikan penjelasannya dengan menanyakan kelengkapan dokumen persyaratan pendaftaran kepada kami semua. Bersama-sama kami menjawabnya dengan semangat “SIAP”. Tak lama kemudian, dengan bersepeda, kita berangkat menuju SMP N 1 Kemangkon.

(Saran gue, sebelum kamu baca cerita berikutnya puter dulu lagu “Ran-Bersepeda” ganti kata Jakarta dengan Purbalingga) :D.

Kalo inget masa-masa pendaftaran sekolah, rasanya Amazing! jantung berdebar, otak mikir dan siap-siap dengan tes masuk, apalagi tes perguruan tinggi, masih cupu, kesana kemari dengan tegang di tempat yang jauuh dari rumah, ketemu orang-orang yang gak di kenal… hahaha… gak ada kata yang bisa mewakili kecuali “Sesuatu, Alhamdulillah”.

Oiya, jangan percaya jam yang gue tulis, itu ngarang belaka :D. Definitely, gue nggak mungkin inget sesuatu sampe detail kayak komputer. semuanya atas dasar mengira-ngira. Hehehe

SMP N 1 Kemangkon masih cukup lenggang, sesampainya kami di sekolah yang di kelilingi persawahan itu. Halamannya luas sekali, ada lapangan bola Voli, dan sampingnya lapangan cukup luas yang bisa digunakan untuk bermain sepak bola—Nantinya lapangan ini disebut lapangan teletabis karena bentuknya yang berbukit-bukit kecil seperti yang ada di Teletubbies. Begitu kami masuk kebagian tengah sekolah, kami terpana dengan luasnya lapangan upacara, yang dikelilingi oleh deretan kelas dengan pintu tinggi dan lebar berwarna abu-abu.

Seperti bebek yang sedang digiring oleh pawangnya, kami mengikuti arahan pak Kirman untuk menuju ruang pendaftaran yang terletak di deretan ujung bagian timur, tepat disamping perpustakaan. Sambil bergantian, kami saling membuka tas, untuk mengambil dokumen-dokumen persyaratan pendaftaran. Semuanya semangat dan terlihat mantap dengan memegang stopmap yang berisi dokumen-dokumen itu. Tibalah giliranku, tapi aku tidak menemukan stopmap warna merah di dalam tasku. Aku panik!. Pikiranku melayang mengingat saat berkumpul di SD, aku meletakkan stopmap itu didalam laci meja kelas, aku lupa memasukkannya kedalam tas waktu berangkat, kereeen! (Jarak SD ke SMP kira-kira 3 Km). Dengan diiringi perasaan berantakan, aku berlari ke parkiran sepeda tanpa menghiraukan teman-teman lain yang bertanya-tanya. Aku tidak melewati jalan raya seperti saat berangkat bersama teman-teman, aku mengambil jalan pintas yang kami sebut Tandon, yang melintasi tengah sawah yang selisihnya hampir 10 Menit lebih cepat dibanding lewat jalan raya yang waktu itu masih belum beraspal. Matahari sudah cukup berhasil mentransfer panasnya ke sekujur tubuhku yang hanya memakai kemeja putih tipis dan celana merah diatas lutut dan sepatu hitam lusuh tanpa jaket. Aku pacu sepeda BMX-ku sekuat tenaga, secepat mungkin, rasanya seperti keajaiban aku tidak melebar dan terjun bebas ke selokan atau ke sawah sepanjang jalan Tandon (Bakat alam mungkin? *benerin poni). Sesampainya di SD, rasa-rasanya dunia sudah kehabisan stok oksigen, aku menghirupnya sekuat tenaga tapi kosong! Tidak ada yang terserap. Sambil megap-megap kehabisan nafas, aku robohkan begitu saja sepedaku, kemudian berlari menuju kelas 6, masuk pintu dengan menikung zigzag ke kanan kemudian balik kanan tepat di meja tengah, mataku fokus ke laci meja itu. Alhamdulillah, stopmap merah ada disitu. Dengan cepat stopmap itu aku masukkan ke dalam tas kemudian kembali berlari menuju sepedaku.

Keluar dari kelas, pak Jaimin (Bapak Kepala Sekolah) melihatku.

“Kenapa?” tanya beliau dengan heran.

Sambil (masih) mencari stok oksigen aku menjawab “Ijazah buat ndaftar SMP ketinggalan di laci pak..”.

“Owalah.. ampun grasa grusu nggih?!”

“Nggih pak!”

Tancap pedal lagi!. Kembali, sekuat tenaga ku kayuh dengan cepat sepedaku, kembali melewati  jalur Tandon. Keringat deras yang keluar membuat kulitku terlihat mengkilat. Selamat buat Matahari, dia berhasil mentransfer 100% panasnya ke tubuhku. Rasanya aku mandi keringat.

Memasuki pintu gerbang SMP, anak-anak berseragam Putih-Merah berserakan dimana-mana seperti semut mengelilingi gula yang jatuh di lantai. Suasana itu semakin membuatku panik. Aku berlari ke ruang pendaftaran, belum sampai di sana aku berpapasan dengan teman-temanku. “Kamu dari mana?” tanya Hana penasaran. “Ijazahku ketinggalan di SD, aku baru mengambilnya tadi. Apa kalian sudah mendaftar?”. “Tentu saja sudah…” mereka semua serentak menjawab. Tanpa berkata-kata lagi, aku berlari lebih cepat ke ruang pendaftaran. Ruang pendaftaran penuh sesak oleh antrian anak-anak yang mendaftar. Sambil mengusap keringat dengan lengan bajuku, aku masuk kedalam antrian. Aku tidak tahu, kenapa ijazah bisa tertinggal di SD padahal sudah ku masukkan kedalam tas waktu berangkat dari rumah, kenapa pak Kirman harus meminta kami mengecek kembali kelengkapan dokumen pendaftaran, kenapa juga setelah mengeceknya, aku malah memasukkan stopmap berisi dokumen itu kedalam laci meja, bukan kedalam tas. Ahhh… kenapa?.  Bayanganku melayang meninggi ke atas SMP sampai semua atap bangunannya terlihat, kemudian menjorok terjun menyelusuri jalan Tandon, meliuk-liuk mengikuti lika-liku jalannya dan matahari masih terus mentransfer panas (*heran), kemudian terus berlanjut melewati Desa Majatengah, kemudian perbatasan Desa Kedunglegok – Majatengah hingga akhirnya sampai di rumahku, menembus pintu depan, melewati ruang tamu dan sampai di ruang tengah, aku melihat Ibu.

……………..……………..……………..……………..……………..…

Sampe sekarang gue masih inget kisah itu, nggak seperti yang gue tulis diatas, tapi pada intinya gue ingin mengambil prinsip kerja dari “hubungan antara Sial dengan membuat kecewa Orangtua, khususnya Ibu”. Mungkin gue berlebihan menghubungkan sialnya Ijazah yang ketinggalan saat mendaftar SMP dengan berbuat salah atau membuat kecewa Orangtua, terlebih lagi Ibu. Tapi menurut gue, soal ijazah ketinggalan itu bisa menjadi sebuah miniatur dari masalah-masalah hidup yang lebih besar. Coba bayangin kalo misalnya kejadiannya gue ketinggalan sesuatu yang sangat penting disaat yang penting dan tidak ada waktu lagi untuk kembali mengambil yang penting itu. Misalnya gue tanggal X jam Y ada panggilan interview kerja diperusahaan yang paling gue penginin, pengalaman melimpah, temen-temen positif, membawa semangat, dan insentifnya gedhe. Tapi pas hari H nya, ada masalah yang tak terduga, misalnya udah pesen tiket KA / Pesawat, tiketnya ilang, delayedlah, udah sampe di perusahaannya eh gue lupa bawa dokumen persyaratan atau apapun yang seharusnya sangat gue butuhin disana tapi nggak kebawa. Belum lagi hal-hal yang lebih buruk dari itu, nggak ada pihak manapun yang bisa menjamin keamanan kendaraan di darat, laut atau udara kecuali atas izin Allah kan? Padahal ridho Allah tergantung ridho kedua Orangtua. Bayangin aja, kalo kita nggak diridhoi Ortu (kita bikin kecewa Ortu terus ortu nggak ridhoin kita) apa nggak berantakan hidup kita?

Apalagi Ibu, inget, surga ada ditelapak kaki Ibu. Maksudnya apa? Maksudnya, kita harus berbakti kepadanya, betapapun itu nggak sesuai dengan apa yang kita inginkan asal maksud beliau baik, ikutilah. Kalau kita merasa kita punya pendapat yang lebih baik, sampaikan dengan baik-baik, jangan sampe beliau merasa tersakiti. Minimal yang disebut berbakti itu kita berusaha untuk jangan sampe membuat Ortu khususnya Ibu kita kecewa, apalagi nyesel punya anak kayak kita. Bahkan gue yakin, seberapapun kecewanya seorang Ibu, dia tidak akan pernah berhenti mendo’akan yang terbaik buat kita, dia rela melakukan apapun demi memberi yang terbaik buat anaknya, apapun!.

Emang sih, kadang nasihat Ibu nggak up to date dengan jaman sekarang. “Gue kan anak gaul, Ibu itu jadul, nggak tau apa-apa tentang jaman sekarang”. HEH! Siapa kita sih??? Inget kita dari nggak berbentuk itu udah numpang di perut Ibu, bikin perutnya sakit hampir tiap hari, makan gak selera, jalan sempoyongan. Udah lahir bikin repot, nangis mulu, makan harus disuapin, nggak bisa jalan harus di gendong, nggak bisa bersihin kotoran sendiri. Udah gedean dikit, kepengin ini itu, jajanlah, mainanlah, ini itu dan sebagainya. Tanya itu tanya ini. Udah semakin gedhe, nambah-nambah biaya buat sekolah. Eeeh sekarang “Gue kan anak gaul, Ibu itu anak taun berapa??” ampuuuun deh!

She’s an Angel. Ibu adalah malaikat yang menjaga dan memastikan serta mendoakan agar kita selalu berada di jalan yang benar. Berusahalah untuk nggak bikin beliau kecewa, berusahalah agar beliau merasa bangga punya anak hebat seperti kita, supaya kita jauh dari sial dan mendekat dengan keberuntungan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s