Loh koq nggak main? :D

Ini cerita waktu aku kelas 3 SMP. Dalam masa-masa sekolah, yang paling menyenangkan adalah pulang cepet (balik gasik :D). Nah kebetulan alhamdulillah, hari itu SMPN 1 Kemangkon, pulang lebih cepat dan tidak ada KBM jadi aku dan 2 orang temenku yang lain, Tikno dan China, memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Purbalingga. Masih menggunakan seragam lengkap, dengan bersepeda (jengki :)) kami menuju ke tempat para mobil angkot nge-tem, yaitu di Panican. Dengan membayar Rp 500 perak, kami memulai perjalanan ke Purbalingga dengan angkot, dan naik angkot adalah salah satu hal yang paling menyenangkan waktu itu, kami bahagia sekali. hehe..

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Indo Rizky, sebuah swalayan baru yang cukup besar waktu itu, yang menyediakan berbagai hal, dari kebutuhan sehari-hari, pakaian, dan Timezone. Kami semua tertarik untuk melihat wahana Timezone. Untuk anak SMP seperti kami di awal tahun 2005 sepertinya Timezone masih layak dibilang keren :D. Bayangin aja, kita bisa ngegame balap motor dan ada motornya, tembak-tembakan ada tembaknya dan game menarik lainnya. Seperti permainan dingdong, untuk memulai permainan itu harus insert coin. tapi untuk timezone tidak menggunakan uang koin Rp 100 perak, melainkan menggunakan koin khusus dengan membayar ke petugas timezone. waktu itu harga 1 koin timezone Rp 1.000,-/koin. sebenarnya ini termasuk mahal, karena dengan Rp 1.500, kita bisa main PS (PS One) 1 jam sementara dalam permainan ini cuma beberapa menit, tergantung pinter nggaknya kita ngegame. Setelah berpikir cukup lama :D, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk membeli masing-masing 1 koin.

indo rizky swalayan

indo rizky swalayan – sekarang (koq keliatan kecil ya, nggak kayak dulu… :D)

Setelah mendapatkan koin, kami milih-milih, mana permainan yang asik. Kami bertiga cukup bingung juga, mau mainin permainan yang mana, karena hampir semuanya keren dan asik. Pada akhirnya Tikno memilih permainan tembak-tembakan (kayaknya game V-COP :D). Selanjutnya aku juga memilih permainan tembak-tembakan (tiru-tiru :D) karena sebelumnya aku pernah main yang balap motor yang ada motornya beneran 8|. China, masih bingung mau main yang mana, akhirnya dia bergabung denganku, karena permainan tembak-tembakan ini bisa multiplayer. Dengan semangat perang (mau tembak-tembakan coy, :D) aku memasukkan koinku kedalam dingdong. Namun sial, layar yang hitam nggak hidup-hidup, padahal biasanya kalo koin udah dimasukan layar langsung terang, dan permainan bisa dimulai. Slidik punya slidik, ternyata layarnya mati alias mesinnya mati! ahahahaha… :hammer. Pikirku ini mesin yang canggih, jadi kalo kita masukkin koin, mesin otomatis hidup dan bisa langsung main, ternyata faktanya nggak begitu :(. Kami semua ngakak guling-guling melihat kekonyolanku :D. Waktu itu (mungkin sekarang juga masih :)) China adalah salah satu temenku yang paling baik hati, akhirnya kita tetap bermain timezone dengan koin yang dimilikinya tentu dengan memasukkan koin ke mesin permainan yang hidup! hahaha..

Setelah asik bermain, kami melanjutkan (dengan tema ngakak “loh koq nggak main??”:D) jalan-jalan menyusuri kota Purbalingga. Mungkin kalo sekarang, jalan trotoar di Purbalingga dulu, rame-ramenya kayak di Malioboro. Sepanjang perjalanan itu kami serasa anak paling bahagia sedunia, sangat menyenangkan jalan-jalan di Purbalingga. Kurang lebih berjalan 3 kilometer, dari Indorizky, kami sampai di alun-alun Purbalingga. Seperti di kota-kota lain, alun-alun adalah tempat paling asri untuk nongkrong (nggak nongkrong sih, duduk :D).  Karena perut sudah keroncongan, kami makan Mie Ayam di seberang alun-alun, kayaknya ini Mie Ayam paling enak yang pernah aku makan sepanjang sejarah aku hidup dalam 21 tahun ini. :D, sumpah enak banget mie ayamnya, hehe..

alun-alun kota purbalingga

Suasana alun-alun kota Purbalingga dan Masjid Agung Purbalingga – 2011

Setelah kenyang, karena peraturan lalu-lintas di Purbalingga memberlakukan kendaraan umum dari terminal dilarang  melewati jalan alun-alun, kami melanjutkan perjalanan kurang lebih 1 kilometer lagi untuk menunggu angkot ke Kemangkon di bangjo pertama setelah alun-alun. Setelah menunggu cukup lama akhirnya kami melihat angkot nomor 5 yang menuju ke Kemangkon. Namun angkot itu ternyata sudah penuh, jadi kami bertiga bergelantungan di pintu angkot bareng kenek angkot :D. Mungkin kalo sekarang kita melihatnya sebagai hal yang menyedihkan, tapi terus terang aja, dulu menyenangkan sekali, semriwing hehehe.. di tengah perjalanan akhirnya penumpang yang ada didalam angkot mulai berkurang dan kami bisa duduk di dalamnya. Meskipun sebenarnya kami lebih senang bergelantungan di pintu :D, tapi hal itu di larang oleh supir dan kondektur, karena memang berbahaya.

15 menit kemudian, akhirnya kami sampai di pemberhentian angkot di Kemangkon. Turun dari angkot kami menuju tempat penitipan sepeda, dengan membayar Rp. 100 perak, kami mengambil sepeda ontel “Jengki gaul” (nanti aku cari deh foto sepeda jengki gaul jaman SMPku dulu :D) kami kemudian pulang kerumah masing-masing.

Selalu menyenangkan, mengingat kenangan yang memang menyenangkan … hehe.. LOL :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s