Jangan membuat “asumsi” sendiri!

Sebenernya cerita ini menjadi satu bagian dari tulisan gue kemaren siang, tapi karena setelah gue tulis ternyata ceritanya jadi panjang jadi yang gue maksud hari bersejarah adalah dicerita ini. Jadi ceritanya begini,

Setelah menjalankan sholat maghrib, gue langsung menuju kamar untuk istirahat. Jam 21.25 gue bangun, sambil ngumpulin nyawa, gue jalan ke kamar mandi dan wudlu untuk sholat ‘isa. Selesai sholat isa, gue kembali kekamar buat nglanjutin tidur. Sebelum tidur gue ngliat hp, ternyata ada 1 sms diterima, gue buka ternyata ada panggilan wawancara kerja di sebuah perusahaan terkemuka di jogja :), jam 10.30 besok (Jum’at kemarin). “Wah berangkat jogja lagi nih besok, padahal gue baru nyampe dirumah sore” batin gue.  Entah kenapa panggilan wawancara yang biasanya jam 8 pagi, kali ini jadi jam 10.30 wib, gue berpikir mungkin Allah ngasih kesempatan buat gue untuk bisa hadir, karena kalo wawancara jam 8 pagi, otomatis gue harus berangkat jogja paling nggak jam 4 pagi karena waktu yang dibutuhin dari Purbalingga – Jogja sekitar 4 jam, that’s impossible, gue nggak bisa (Terlalu). Jadi gue mutusin untuk berangkat ke Jogja besok jam 6 pagi.

Langsung aja ke jam 6 pagi. Setelah sarapan, gue pamit berangkat sama Ibu gue. Tapi gue nyium bau bensin, ternyata itu berasal dari Frank (nama motor gue :D), bensinnya bocor. Gue nggak tau sama sekali kenapa bisa begitu, karena waktu yang mepet, gue nggak peduli dan tetap berangkat.

Selepas start otak gue terus berpikir gimana kalo ada api dijalan dan menyambar ke bagian bensin yang bocor bisa-bisa Frank bisa meledak karena api akan menyambar ke mesin, tapi kemudian pikiran gue menyangkal, karena ada sebuah kejadian di motogp, Jorge Lorenzo motornya terbakar dibagian bawah, dan nggak meledak, jadi pasti aman, “jangan berpikir yang berlebihan deh :D” batin.

Sepanjang jalan, abis mikir tentang motor meledak (na’udzubillah) pikiran gue beralih ke about wawancara, apa yang harus gue lakuin pas wawancara? strateginya gimana? dll. Karena sebelumnya gue juga pernah wawancara di Perusahaan yang sama tapi di bagian yang berbeda, iya, gue ngirim 2 surat lamaran dulu, karena gak ada aturan per orang hanya boleh mengirim 1 lamaran, jadi gue ngirim 2, kalau ketrima dua-duanya, gue milih yang lebih bagus yang mana, gue udah tahu perusahaannya gimana, jadi gak masalah.

Jadi, pas wawancara sebelumnya, si pewancara nanyain beberapa pertanyaan seperti: Apa motivasi nglamar disini?; Pekerjaan bakal under pressure, siap?; Jika dalam organisasi sebuah perusahaan, dimana anda berada dalam perusahaan tsb?; Apa 5 keberhasilan anda dalam hidup?; Kegagalan paling parah yg pernah dialami dalam hidup?; Dari hasil tes praktik, coba jelaskan apa yg anda lakukan tadi?; dan pertanyaan kecil lainnya.

Berangkat dari wawancara yang gue sebutkan diatas, karena perusahaannya sama, mungkin (asumsi gue yang pertama) pertanyaannya seputar hal yang sama. Gue tipe orang yang otaknya terorganisir :D (nanti gue kasih tau lebih jauh tentang gue dilain kesempatan) gue jarang melakukan improvisasi yang hebat dalam tindakan, lagipula banyak hal yang diotak gue udah bagus banget, pas keluar jadi kayak kerupuk, ada yang garing, ada yang melempem. Jadi intinya, dalam menghadapi wawancara kedua, gue mengacu pada pengalaman wawancara yang pertama.

Dengan rute yang sama seperti kemaren, akhirnya gue nyampe Jogja jam 09.44 wib, jadi gue bisa rehat sejenak like Andi Noya di Kick Andy :D. Gue berangkat dg gaya kondangan (Batik+Celana kain+Sepatu Pantovel) karena jam tangan gue udah nunjukkin pukul 10.30 (lebih cepat 15 menit dari jam standard), dan nyampe di TKP, sesi wawancara belum dimulai, bisa rehat sejenak lagi :) sambil ngatur strategi (Improvisasi pengalaman wawancara sebelumnya). Gue nunggu giliran lama banget, sampe jam 11.20 baru gue dipanggil, ternyata sebenernya gue urutan no. 1, tapi karena yang manggil posisinya jauh dari gue, gue nggak denger, jadi gue menjadi peserta terakhir yang diwawancarai.

Masuk ruang wawancara.

Say hello :), dipersilahkan duduk, jadi gue duduk :D.

Setelah menanyakan identitas, Pewawancara langsung melempar pertanyaan, “coba ceritakan siapa anda, dan apa motivasi anda melamar disini?”, pertanyaan yang salah (menurut pikiran gue, walaupun sebenarnya gak jauh dari wawancara gue sebelumnya), think fast dengan agak panik (gue orang yang gampang panik, grogi dan perasaan gak enak lainnya)* akhirnya gue ngomong dengan standard, normatif dan cepat, nggak sejalan dengan yang ada di otak gue.

Seringkali gue berasumsi bahwa, entah bagaimana kebanyakan orang sudah memahami gue (dari orang-orang yang gue kenal dan belum kenal gue, apalagi yang udah kenal gue). Jadi gue merespon seseorang dengan cara bahwa orang tersebut sudah mengetahui apa yang sedang kita bicarakan, so gue ngomong seadanya, dan seperlunya (semoga lo tau maksud gue guys). Tentu saja asumsi tersebut salah total, karena orang belum paham, dan menganggap gue orang yang standar dan nilai minus lainnya.

Sekarang, dari kisah ini, gue tau apa masalah gue dalam hidup ini (keseringan berasumsi sendiri) dan dari sini gue berharap dan berusaha gue bisa lebih terbuka dalam menyatakan sesuatu.

Postingan ini sebagai tribute kepada dosen yang sering ngajar gue, dan sekarang menjadi dosen pembimbing di skripsi yang sedang gue jalanin.

“Jangan membuat asumsi sendiri !” M. Rudyanto Arief.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s