Perjalanan indah penuh kisah

Hari ini menjadi bersejarah banget karena ada beberapa kejadian seru yang perlu menjadi perhatian dan pelajaran buat gue, agar kelak bisa menjadi lebih baik dalam menghadapi masalah yang mirip dengan apa yang gue hadapi hari ini.

Cerita dimulai dari hari kemaren, dimana gue memutuskan untuk pulang ke Purbalingga untuk ngasih hardisk titipan temen gue sekaligus buat melampiaskan rasa kangen gue dengan orang-orang rumah, Ibu, kakak dan adik gue. Nah, rencananya gue mau pulang ba’da sholat dhuhur, yaitu sekitar pukul 12.30 siang-an, tapi kemaren lagi panas-panasnya, dan gue putusin untuk menundanya sampe agak adem dengan ngliat facebook, twitter dan buat schedule post untuk kategori Citizenship sampe hampir jam 2 sore, dan kebetulan cuacanya udah adem karena mendung. Pelan tapi pasti gue close satu persatu tab dibrowser chrome, kemudian nge-shutdown pc gue abis itu nge-cek barang-barang yang mau dibawa pulang yang udah gue packing pagi harinya. Setelah semuanya oke, termasuk kostum buat ngadepin jalanan, kamar kost gue kunci langsung menuju parkiran dibawah, dengan membaca bismillah gue mulai perjalanan pulang dengan Frank (nama motor gue).

Dalam perjalanan, alhamdulillah karena mendung dijalan jadi adem banget, dan membuat gue semakin antusias melibas setiap jalanan rute “Jogja-Borobudur-Sapuran-Kretek-Selomerto-Banjarnegara-Purwonegoro-Klampok-Kemangkon-Kedunglegok“. Pada etape ke-2 di jalan Borobudur gue liat hujan yang lumayan deres jarak 100 meter, dan gue minggir untuk make kostum kedua gue “Mantel” dengan tulisan -GMA- dibagian belakang yang gue gak tau kepanjangannya apa, barusan googling GMA, malah ketemunya “Good Morning America”, jelas kepanjangan GMA yang gue maksud bukan itu, setelah memakai mantel gue nglanjutin perjalanan. Kira-kira di 1 kilometer kedepan, hujan berhenti dan awan yang sebelumnya mendung menjadi terang dan kembali panas! tambah panas karena gue pake mantel, gue agak kecewa dengan kostum mantel yang nggak “bermanfaat”, didepan ada kebulan debu jauh disebelah kiri, ternyata tentara sedang latihan tembak di batalion, gue berhenti bentar untuk melihatnya. 1 menit kemudian gue kembali kejalan masih memakai mantel itu sampai etape ke-3 Sapuran, dijalan ini gue ketemu orang yang mungkin “bermental” pembalap, karena dia ngebut dijalan yang berliku naik turun itu. Karena gue merasa ngantuk gue mutusin untuk “mengejarnya” masih memakai mantel yang udah kering. Ditiap tikungan maupun turunan jalan Sapuran gue tempel ketat dibelakang rider yang bermotor supra-x 125 (sama dengan Frank yang gue kendarain :D). Persis seperti di Moto2 (sekarang motogp udah gak menarik lagi balapannya) gue hampir menyalipnya di tiap tikungan. Dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam  gue hampir jatoh karena rasanya mau terbang dari motor, karena jalan yang kecil dan naik turun, tiba tiba ada anak yang berboncengan tanpa helm dengan ikut-ikutan ngebut dengan nggak safety riding, belok berlebihan kemana-mana. Gue ngrasa bahaya, tapi karena gue bernafsu untuk “ngalahin” rider didepan gue, jadi gue tetap ngebut. Beruntung si-anak yang gak pake helm tadi berhenti diwarung pinggir jalan, sekarang tinggal tersisa gue dan rider dijalan. Akhirnya di tikungan patah kemudian naik gue bisa melewatinya dari arah kanan, “you got it!!” teriak gue.  alhamdulillah gue tetap selamat dan lancar tanpa halangan rintangan yang berarti. Sekitar 5 menit setelah kemenangan gue, dipertigaan rider itu jalan lurus sementara gue belok, ternyata dia warga sekitar tempat itu (pantesan ngebut dan ngerti jalan). Dijalan gue sendirian, sebelum turunan panjang setelahnya, gue minggir untuk lepas mantel. Sampai di etape ke-4 Kretek, cuaca kembali mendung dan hawa yang sebelumnya panas menjadi dingin (hawa classic di Wonosobo) ditambah lagi hujan tipe gerimis turun, dan orang-orang dari arah berlawanan memakai mantel yang masih basah, terlihat didepan awan gelap mungkin hujan lebat. Setelah masuk jalan kecil menuju ke etape 5, yang melewati pasar Kretek gue berhenti didepan masjid untuk sholat ‘asar karena jam tangan menunjukkan pukul 15.45 Wib.

Gue biasa melewati Masjid yang gue lupa liat namanya, baru kali ini gue “mendarat” disana. Masjid ini membuat gue terpesona, jadi antara bangunan Masjid dengan jalan dipisahkan oleh sungai kecil, so beautiful. Saat gue menuju tempat untuk ber-wudlu, gue kaget karena lantainya berbahan besi berdiameter sekitar 2 cm berjejer dengan jarak sekitar 5 cm. Ternyata dibawahnya terdapat banyak ikan gedhe, woww, nice touch. Gue mengambil air wudlu (dengan hati-hati) diatas jejeran besi itu, air yang keluar dari kran dingin dan seger banget, rasa lelah yang gue rasain hilang seketika. Setelah wudlu gue bermaksud masuk Masjid untuk sholat didalam, ternyata pintunya terkunci, sayang sekali gue nggak bisa sholat didalam, jadi gue sholat diluar nggak jauh dari tempat wudlu. Seperti biasanya sholat membuat hati dan jiwa menjadi tentram.

Usai sholat, gue melanjutkan perjalanan. nggak lama kemudian hujan turun lagi kali ini lebih gedhe jadi gue kembali pake kostum GMA (mantel :D). Perjalanan selanjutnya dari etape ke-5 Selomerto tidak ada “sesuatu”. Sebelum sampai di etape ke-6 Banjarnegara hujan mereda namun langit masih gelap jadi gue tetap pake mantel sampai di etape ke-7 Purwonegoro juga lempeng-lempeng aja gak ada cerita yang menarik. Baru dipertengahan jalan menuju etape ke-8 Klampok gue ngliat truk yang bawa motor-motor baru dari dealer terjungkal kesawah pinggir jalan sebelah kiri, dan disebelah kanannya mobil “coak” pengangkut kayu ringsek, kepala mobil nyungsep kedalam, pecahan kaca berserakan dimana-mana, mungkin telah terjadi tabrakan yang sangat keras. Gue melewatinya dengan pelan tapi gue nggak turun untuk ikut bergabung dengan kerumunan warga sekitar untuk melihat apa yang terjadi karena gue udah capek banget, very tired. Dengan pelan, gue melewati etape ke-8 Klampok  kemudian etape ke-9 Kemangkon sampai finish di rumah gue, tepatnya di etape ke-10 desa Kedunglegok pas banget waktu maghrib jam 17.30 Wib.

Alhamdulillah gue selamat sampai tujuan dari perjalanan panjang yang indah dan penuh kisah ini. Selalu menyenangkan melewati jalan dengan 10 etape itu. Semoga diperjalanan-perjalanan selanjutnya (kemanapun) gue lebih berhati-hati jadi gue bisa memastikan keselamatan sampai tujuan. Amiin

By the way, gue masih belum kreatif dalam menggunakan kata-kata jadi banyak kata-kata yang sama. Semoga kedepan gue bisa lebih kreatif dan lebih segar lagi. See you,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s