Pendidikan Kewarganegaraan kenapa harus dipelajari?

Seperti tercantum dalam Undang – undang Negara Republik Indonesia dalam Bab III pasal 3, disebutkan bahwa “Hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.” Serta pasal 4 yang berbunyi “Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah mewujudkan warga negara sadar bela negara berlandaskan pemahaman politik kebangsaan, dan kepekaan mengembangkan jati diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa.” Artinya Pendidikan Kewarganegaraan memang sangat penting untuk di pelajari dalam setiap jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, agar masyarakat selalu dapat berupaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar bangsa ini dapat terus menjadi lebih baik di setiap waktu.

Pentingya Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan mencakup :

Tujuan Umum

Untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga negara yang diandalkan oleh bangsa dan negara.

Tujuan Khusus

  • Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagawai WNI terdidik dan bertanggung jawab.
  • Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional.
  • Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

Oleh karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan adalah sangat penting untuk pelajari di perguruan tinggi, karena mahasiswa di perguruan tinggi adalah calon paling nyata yang akan benar – benar akan terjun secara langsung menjadi “Masyarakat”, yang seharusnya tidak lagi bergantung pada orang tua dan keluarganya setelah lulus dari Perguruan Tinggi dan akan menjadi pribadi yang mandiri yang bekerja atau berwirausaha untuk melanjutkan hidupnya keluarganya khususnya serta ikut memajukan masyarakat luas pada umumnya. Yang akan menjadi penerus bangsa, yang akan mengganti para pemimpin negeri ini, panutan masyarakat, dan yang paling penting agar Mahasiswa akan terus mencintai negerinya Indonesia. Karena cinta kepada negara adalah modal dasar untuk menjadi warga negara yang baik, yang siap mencurahkan segala kekuatan yang terbaik untuk terus membuat negeri ini menjadi negeri yang kuat, negeri yang dapat menjadi panutan di seluruh penjuru dunia ini.

Dewasa ini teknologi semakin canggih, apapun bisa dilakukan dengan lebih cepat, lebih efisien dan lebih hemat. Namun, seiring majunya teknologi, tingkat kejahatan serta atitude yang buruk juga tak kalah majunya. Contoh yang paling nyata dari mundurnya atitude adalah Bahasa. Ya, kita mempunyai satu bahasa Nasional yaitu Bahasa Indonesia. Tetapi, dalam tiap daerah di Indonesia juga memiliki bahasa daerah yang berbeda – beda. Sebagai orang jawa, saya akan mencotohkan atitude Bahasa. Dalam bahasa jawa, terdapat 3 buah jenis pengucapan bahasa yang berbeda yaitu Ngoko, Kromo dan Kromo Alus. Ngoko adalah bahasa yang paling kasar dari ketiga jenis tersebut. Ngoko biasa digunakan oleh orang yang setara derajat dan usianya di lingkungan sekitar, sedangkan Kromo digunakan untuk orang yang setara namun tidak terlalu akrab (orang jauh) namun masih memiliki derajat yang hampir sama. Sedangkan Kromo Alus adalah bahasa yang digunakan untuk menghormati orang yang derajatnya tinggi (bukan hanya dilihat dari jabatan / status sosial (ulama dsb) tetapi juga termasuk kepada kedua Orang tua serta orang yang lebih tua dari kita).  Nah, yang menjadi masalah sekarang ini adalah tiga jenis pengucapan bahasa tersebut tidak terlalu di pedulikan masyarakat. Anak kepada orang tua tidak menggunakan kromo alus. Ini adalah masalah yang cukup besar, saya ulangi “Anak kepada Orang tua tidak menggunakan Kromo Alus”. Bisa kita bayangkan, dulu waktu masih jaman anak berbahasa Kromo Alus kepada orang tuanya (sekarang bisa dibilang tidak/jarang)  tentu setiap saat berbahasa yang halus kepada kedua orang tuanya. Sulit dibayangkan bagaimana anak berkata karena marah kepada orang tuanya dengan bahasa halus (Kromo Alus). Saya pikir, anak – anak dulu sangat jarang marah kepada orang tuanya, jika marah kemungkinan masih marah yang wajar. Sekarang kita lihat di jaman sekarang, para orang tua sangat jarang mengajarkan anaknya Kromo Alus, justru banyak yang mengajarkan Bahasa Indonesia, yang sejatinya tentu anak akan otomatis bisa seiring dengan pertumbuhan dan wawasannya. Termasuk saya, saya tidak mempunyai banyak simpanan grammar bahasa Kromo Alus untuk menghormati orang lain dan selalu menggunakan bahasa Ngoko kepada kedua Orang tua saya. Akhirnya apa yang terjadi ? anak – anak jaman sekarang berani kepada Orang tuanya, berani menentang kata – kata Orang tuanya, membangkang tidak berbakti dan perilaku buruk lainnya. Tidak jarang, ada berita “anak membunuh orang tuanya” karena alasan yang sepele, tidak di beri uang jajan, minta dibelikan motor tapi tidak juga diberi. Masya Allah, hal ini tentu dapat di cegah jikalau anak berbahasa yang halus kepada Orang tuanya dengan bahasa Kromo Alus karena bisa dikatakan anak tidak dapat marah kepada orang tuanya dengan bahasa Kromo Alus (memang anak bisa saja menggunakan Ngoko, tapi karena kebiasan menggunakan Kromo Alus tentu tidak begitu saja terlontar Ngoko kepada Orang tuanya).

Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil, dan sesuatu yang kecil dimulai dari sesuatu yang tidak ada. Banyak hal yang kecil namun berdampak besar dalam kehidupan ini, seperti penggunaan Bahasa yang saya contohkan sebelumnya. Saya tahu bahasa jawa (saya pikir setiap bahasa daerah demikian) ternyata sangat penting. Akan tetapi saya belum bisa menerapkan bahasa Kromo Alus kepada anak saya kelak, karena saya sendiri tidak mahir dalam berbahasa Kromo Alus. Walaupun bisa belajar, tapi keadaan sudah berbeda, pergaulan anak sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Akan sangat sulit seorang anak yang misalnya berbahasa Kromo Alus kepada Orang tua, tetapi tidak satupun (jarang) teman – temannya yang lain demikian. Sepertinya sulit untuk mengatur ulang atitude yang sudah terlanjur menjamur seperti ini.

Kembali kepada Pendidikan Kewarganegaraan, saya berpendapat bahwa ini adalah salah satu solusi yang tepat untuk menghadapi jaman ini dan selanjutnya, seperti masalah tentang bahasa yang saya bahas di paragraf sebelumnya. Seharusnya Pendidikan Kewarganegaraan dapat berfungsi sebagai solusi untuk tetap membuat bangsa ini tetap ber atitude yang baik. Dan dengan adanya Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi yang dipelajari oleh mahasiswa yang merupakan calon penerus orang tua generasi berikutnya dapat menjadikan mahasiswa tetap berada di jalur yang benar dan menjadi pribadi yang baik, sehingga keturunannyapun akan menjadi baik, selanjutnya tercipta bangsa yang baik, yang sejalan dengan Pancasila dan norma – norma agama.

Alangkah lucunya negeri ini, begitu sebuah judul film tentang negara tercinta kita, Indonesia. Film tersebut sudah mewakili keadaan negeri ini, dari masyarakat kecil, sampai para pejabat tinggi. Bagaimana mungkin anak – anak terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara dibiarkan begitu saja, yang akhirnya menjadi pribadi yang berwatak buruk, menjadi pencopet, penipu dsb. Padalah mereka juga merupakan generasi penerus bangsa. Kemudian ada lagi, mohon maaf, pada saat Presiden berpidato, menyinggung gaji yang tidak kunjung naik, seorang presiden tidak sewajarnya mengatakan gaji walaupun beliau juga manusia biasa. Tetapi itu tidak terlalu buruk dibandingkan korupsi yang merajalela di bangsa ini. Belum lagi soal Korupsi, adalagi soal Teroris, soal Persepakbolaan, olahraga yang paceklik prestasi dan lain sebagainya. Masalah yang sungguh kompleks. Oleh karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan harus tetap ada di semua jenjang pendidikan, di tengah masyarakat agar dapat menciptakan generasi penerus yang dapat menggantikan generasi senior yang terkesan perlu segera di ganti dengan yang lebih baik, meskipun sulit, tapi setidaknya kita harus memberikan yang terbaik yang kita miliki, sulit bukan hal yang mustahil, karena tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini.

Membiasakan diri menjadi pribadi yang baik adalah solusi yang tepat untuk memulai memperbaiki negeri ini.

Referensi : http://www.google.co.id, yahoo answer “Pengertian dan tujuan pendidikan kewarganegaraan?”, Mario Teguh, Pengalaman Pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s