Benang Kusut HAM di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu dari berbagai negara di dunia yang paling populer dengan rakyat yang ramah-tamah, berbudi pekerti yang baik, dan berperilaku sopan santun, memiliki Tepo Seliro yang baik antar warganya. Image Indonesia di rancah Internasional sudah sangat baik sebetulnya. Tidak sedikit, orang – orang terkenal, bintang dunia, menikmati kunjungannya di Indonesia, dan ingin kembali berkunjung di setiap kesempatan, bisa di bilang mereka merindukan kunjungannya kembali ke Indonesia, “mengesankan” kata mereka.

Kita sudah terkenal dengan sebutan negara yang baik. Akan tetapi kita jarang sekali menyadarinya, kita terlalu baik kepada orang yang kita anggap derajatnya lebih tinggi di banding kita, sedangkan mereka yang derajatnya sama atau bahkan berada di bawah kita tidak begitu kita hiraukan. Contoh yang paling simpel, ketika seorang Bupati berkunjung ke sebuah desa untuk melihat perkembangan desa diberbagai sektor misalnya pertanian, pendidikan. Mereka yang bekerja di sektor tersebut akan berlomba – lomba untuk terlihat sebagai pekerja yang baik, kompeten dan memiliki etos kerja yang bagus. Mereka menjadi orang yang sangat baik pada waktu itu. Akan tetapi, setelah sang Bupati pergi, mereka kembali bermalas – malasan, menjadi apa sebenarnya mereka. Cerita ini hanya sebuah contoh dari banyaknya kejadian yang bisa di jadikan contoh tentang perubahan sikap kita 3600 ketika kita bertemu dengan orang yang derajatnya diatas kita.

Dengan melihat hal tersebut, kita dapat mempertahankan “kebaikan” kita terhadap dunia. Namun, di dalam negeri sendiri banyak di antara kita yang tidak bertindak baik seperti yang seharusnya di lakukan. Kita hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok yang kita senangi. Kita terlalu egois dengan apa yang kita lakukan.  Banyak orang yang butuh bantuan, tetapi kita lebih suka untuk terus ingin memiliki apa yang belum kita miliki. Sementara banyak yang diluar sana yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk menolong mereka.

Terlalu banyak kita bicara tentang apa yang terjadi di negeri ini. Tetapi terlalu sedikit tindakan kita untuk impian mencoba menjadi lebih baik untuk Indonesia. Sehingga Indonesia adalah negara yang pure, aman, damai dan sentosa hanya menjadi mimpi di pagi hari, setelah kita bangun namun tidur kembali untuk menikmati mimpi dan kehangatan selimut ditengah dinginnya pagi.

Tidak sedikit yang menyadari hal ini. Tetapi kita hanya sadar, tidak ada tindakan lebih lanjut untuk mewujudkannya lebih cepat. Kita hanya menunggu siapa yang bergerak lebih dulu. Akibatnya semuanya menunggu, karena tidak ada yang memulai dan melakukannya. Jika kita sudah memulai, kita tidak memiliki dukungan yang cukup, karena jauh lebih banyak yang menunggu daripada yang memulai. Kita menginginkan perubahan yang lebih baik bangsa ini, namun kita terlalu egois dan terlalu banyak menunggu, banyak bicara dan tidak ada tindakan.

Menurut saya, kenapa banyak benang kusut HAM di Indonesia salah satu penyebabnya adalah uraian di atas. Sekarang kita kaji lebih dalam tentang keadaan Indonesia, akhir – akhir ini kisah teroris kembali muncul, dari bom buku maupun bom bunuh diri. Dan sudah di tengarai siapa otak dari semua ini. Sepertinya hal ini menjadi sangat berbahaya, namun, coba kita lihat kancah internasional dalam menanggapi hal ini. Saya kira, jarang yang melihatnya sebagai hal yang serius. Saya selanjutnya berpikir bahwa kita terlalu mengada – ada, kita terlalu berlebihan dalam melihat suatu masalah. Kita ingin bangsa ini menjadi lebih baik, namun “menjadi lebih baik” itu hanya “menjadi lebih baik” apa yang ada didalam pikiran kita, hanya persepsi dari diri kita sendiri, hanya observasi kita sendiri. Kita tidak melihat suatu masalah dengan lebih luas, kita hanya melihat masalah itu hanya ujungnya saja, puncaknya saja, tetapi kita tidak melihat apa yang ada di bawahnya, yang justru sebagai pondasi. Kita menginginkan keadilan, tetapi kita mengorbankan keadilan orang lain. Banyak sekali “tetapi” pada apa yang kita lakukan. Sekali lagi kita hanya melihat suatu masalah dari puncaknya saja, kita tidak melihat bahwa banyak hal yang menopang puncak tersebut. Dan itu sangat kompleks, sekompleks kemacetan di jakarta. Kita kekurangan jalan keluar, karena kita menutupnya sendiri, kita terlalu percaya diri dengan jalan yang kita pilih. Kita menutup mata dengan jalan pilihan lain. Keinginan kita agar Indonesia menjadi lebih baik perlu kita luruskan, kita satukan, kita rancang dan kita susun sebaik mungkin. Kita harus melihat akar dari suatu masalah, kemudian baru berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Kita dapat memulai dari diri sendiri, meskipun tidak mungkin kita semua dapat memulainya dan memahami akan hal ini, tapi setidaknya ada yang memulai dengan tindakan, jangan hanya bicara dan berkomentar.
Wallahu `alam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s