Mengarah Kemana Politisasi Hak-Hak Warganegara ?

Melihat sejarah yang ada di Indonesia, Hak Warganegara selalu berkembang (ada yang baik ada yang buruk) sesuai dengan perkembangan jaman. Dimulai dari Indonesia pada waktu masih dalam negara jajahan, hak – hak warganegara Indonesia hampir 90 % di monopoli oleh penjajah. Yang di hormati haknya hanyalah mereka yang merupakan orang terhormat (bangsawan / kaya), sedangkan mereka yang biasa – biasa saja jangan harap mendapatkan hak yang sewajarnya. Apalagi jika tidak punya kepandaian atau keterampilan, hanya akan menjadi budak di negeri sendiri.

Maju ke jaman penjajahan hampir usai sampai merdeka, setelah rakyat Indonesia memiliki hasrat dan semangat yang tinggi untuk merdeka, hak warganegara mulai berkembang menjadi lebih baik. Mulai ada keseimbangan antara bangsawan dan rakyat jelata, karena bersatu padu memiliki tujuan yang sama yaitu untuk merdeka. Di sisi lain Peran penjajah tidak sepenuhnya membuat keburukan di bumi Indonesia, tetapi mereka juga membuat Indonesia lebih baik dalam hal infrastuktur negara, contohnya transportasi. Banyak jalur kereta yang sampai ke pelosok – pelosok daerah, di buatnya jalan negara dengan membuat jembatan yang kokoh meskipun mengorbankan hak rakyat kecil (kerja rodi) namun itu sangat bermanfaat bahkan sampai sekarang. Dan sebetulnya keadaan jalur transportasi saat itu terutama kereta api sungguh hebat, banyak jalur kereta api yang melewati desa sampai ke kota. Sehingga banyak warga yang sangat terbantu dengan adanya kereta api tersebut. Lihat keadaan kereta api sekarang, kereta api dan relnya yang seharusnya dipermuda karena sudah uzur masih saja di paksakan untuk  bekerja. Akibatnya banyak kereta api yang berhasrat untuk anjlok dari rel lintasannya. Rel juga terlihat ingin sedikit lebih santai, sehingga tidak lagi berkonsentrasi untuk menjaga roda kereta api tetap bersamanya. Dan akhir – akhir ini hasrat mereka banyak yang terkabul. Hal ini tentu berpengaruh pada Hak Warganegara dalam hal Safety. Sehingga menggunakan Transportasi umum di Indonesia rasanya seperti pilihan nomor 10 dari 10 pilihan yang ada. Transportasi darat terutama di jalan raya, banyak jalan yang buruk, berlubang dan bergelombang, jauh dari kata mulus kemudian ditambah dengan timbulnya kemacetan. Naik kereta api dihantui hasrat gilanya (kereta api) untuk anjlok. Untuk transportasi laut, tidak sedikit kapal yang ingin  diving karena tak kuat menanggung beban, lagi – lagi karena faktor usia. Kemudian melihat transportasi udara, banyak pesawat terbang yang berkeinginan untuk terjun bebas. Dan semua itu hanya berlaku untuk kelas ‘Ekonomi’, tidak berlaku pada kelas ‘Executive’. Sungguh tidak adil. Padahal jumlah masyarakat yang Low End jauh lebih banyak ketimbang yang High End. Seharusnya transportasi antara Ekonomi dan Executive tingkat perbedaannya tidak terlalu jauh. Akibatnya timbul kecemburuan sosial yang begitu besar dari masyarakat. Mereka yang terdesak akan melakukan apapun agar menjadi lebih baik, tidak peduli apakah itu halal atau haram, yang penting Happy.

Berlanjut saat Indonesia Merdeka, Hak Warganegara memang lebih baik, salah satunya karena rasa kemerdekaan. Namun disamping itu, hak – hak warganegara juga terkena politisasi pemerintah. Dari lengsernya Bung Karno, kemudian digantikan oleh Pak Harto, yang menjabat selama lebih dari 30 tahun. Meskipun KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) terasa segar dalam pemerintahannya, menurut saya kondisi rakyat Indonesia dalam hal ini Hak – hak sebagai warga negara adalah yang paling baik, di banding pada masa penjajahan maupun jaman sekarang ini. Walaupun demokrasi terlihat lebih bebas di banding dahulu, demokrasi sekarang lebih terlihat sebagai democrazy, saya mengartikannya Orang yang berdemo sekarang ini (mereka yang turun ke jalan – jalan, dan kegiatan demokrasi lainnya) adalah crazy, sangat tidak berguna dan jauh dari kata efektif. Pemerintah sekarang terlihat sangat percaya diri, menurut saya bukan cuma terlihat, tapi memang benar sepenuhnya, Exactly. Menjadi bagian dari pemerintah adalah adalah benar – benar sepenuhnya pemerintah. Perintah sana perintah sini, tidak melihat apa yang mereka perintah. Seharusnya Rakyatlah yang memerintah mereka, bukan mereka (pemerintah) yang menjadi merintah. Seharusnya bisa diibaratkan pemerintah adalah pembantu masyarakat, sama halnya dengan pembantu rumah tangga terhadap majikannya. Tapi nyatanya, pemerintah adalah pembantu rumah tangga yang ada di Sinetron, yang ingin menguasai harta majikannya. Sungguh menggelikan. Di saat yang sama rakyat juga menikmati hal yang menipu, saya rasa banyak diantara kita sebagai rakyat Indonesia yang senang dengan tipuan ini. Mereka lebih bergairah untuk menikmati sesuatu yang nonsense. Dari gosip, sinetron, sampai yang sedang sumringah adalah lipsyinc yang sebenarnya adalah sangat biasa menjadi luar biasa, kemudian keluar kisah teroris jika tidak ada yang bisa menjadi bahan untuk menipu / pengalihan berita. Padahal itu merupakan tipuan yang sangat jelas, untuk menyamarkan masalah – masalah besar negeri ini. Seperti tetap jalannya impian ‘gila’ DPR membuat gedung baru yang bernilai triliunan, hilangnya kasus Century, kasus korupsi. Meskipun jika hal ini di temukan (masih segar/baru) masyarakat serius untuk melihat perkembangannya, tetapi masyarakat kurang tertarik melihat hal ini lebih lama, mereka cenderung lebih tertarik pada tipuan. Ini adalah masalah media pemberitaan. Yang lebih senang memberitakan sesuatu yang buruk daripada yang baik, sesuatu yang tidak penting daripada yang penting. Bad news is Good news. Berita tentang Guru yang bertindak asusila terhadap muridnya lebih menarik daripada berita Guru kreatif yang mengajarkan kreatifitas kepada anak didiknya. Jika berita buruk tidak di sebar luaskan, tentu banyak orang yang tidak terinspirasi untuk ikut melakukannya. Berita adalah inspirasi.

Sehingga kesimpulannya, Masyarakat sendiri yang melupakan Haknya sebagai Warganegara, di tambah lagi dengan sangat percaya dirinya Pemerintah di negeri ini, sehingga memudahkan mereka mem-politisasi hak – hak warganegara. Yang selanjutnya mengarah kemana – mana, alias ngalor-ngidul ora nggenah.

Menurut saya, pemberitaan tentang suatu masalah dan kesadaran masyarakat akan haknya sebagai warganegara adalah kunci dari perubahan untuk lebih menuju kearah yang lebih baik di negeri yang terlihat seperti ‘Orkes Dagelan’ yang menggelikan ini. Wallahualam bi shawab

Referensi : Murni pendapat saya melihat negeri tercinta, Indonesia Raya

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s