Wawasan Kebangsaan Dalam Perspektif Mahasiswa

Indonesia adalah bangsa dengan wilayah yang sangat luas dan memiliki keanekaragaman politik, sosial, ekonomi dan budaya. Secara logika penduduk yang tinggal didalamnya akan sangat sulit untuk bersatu, karena wilayah tertentu dengan budayanya menginginkan menjadi yang terbaik dan memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Itu adalah sifat dasar manusia yaitu ingin berkuasa. Oleh karena itu dibutuhkan Wawasan Kebangsaan agar kita memiliki rasa saling menghormati dan menghargai serta yang paling penting adalah rasa persatuan, kita semua adalah satu bangsa, bangsa Indonesia. Semua yang ada didalamnya adalah milik kita, rumah kita. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan akan menjadi sangat baik jika saling bantu membantu. Intinya Wawasan Kebangsaan sangat berguna untuk melahirkan rasa satu (kebersamaan) dalam suatu bangsa.

Namun akhir-akhir ini perkembangan politik, sosial, ekonomi dan budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekuatiran itu menjadi semakin nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara, yakni memudarnya wawasan kebangsaan. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah bilamana kita kehilangan wawasan tentang makna hakekat bangsa dan kebangsaan yang akan mendorong terjadinya dis-orientasi dan perpecahan.**

Menurut saya sebagai Mahasiswa, permasalahan yang terbesar di Indonesia adalah masalah ekonomi. Masyarakat Indonesia belum mencapai titik aman, kemakmuran dan kesejahteraan belum tercapai. Sehingga banyak orang yang rela melakukan apapun demi mencapainya. Lebih parahnya lagi selain miskin secara ekonomi (jasmani), rakyat Indonesia juga  miskin iman (rohani). Akhlak rakyat Indonesia sangat menghawatirkan, yang menimbulkan pikiran picik. Selanjutnya anak-anak akan “meniru” para orang tuanya yang bersikap demikian, kemudian akhlak ini akan menjadi siklus yang berkelanjutan.

“Bagaimana solusinya?” Pertanyaan ini yang kita butuhkan, bukan “siapa yang salah?”. Pertanyaan “siapa yang salah” tidak akan mempunyai ujung, karena siapapun tidak akan mengakui kesalahan. Jadi mari kita fokus pada pertanyaan “apa solusinya?”. Untuk memulai mindset yang benar, mari kita setuju bahwa setiap masalah selalu memiliki solusi, jika tidak memiliki solusi, itu adalah bukan masalah alias mengada-ada. Selalu ada kemudahan disetiap kesulitan.

Solusi yang dapat dilakukan adalah kekayaan jasmani dan rohani masyarakat Indonesia harus sampai pada titik aman. Tentu tidak mungkin semua orang ada di titik aman. Namun setidaknya yang mencapai titik aman menjadi mayoritas. Bagaimana caranya?. Pertama tumbuhkan rasa kesadaran untuk menjadi lebih baik jasmani maupun rohani, lahir maupun batin. Kita harus fokus pada generasi muda yang bisa dimanfaatkan untuk mencapainya adalah agama dalam pendidikan (sekolah). Pelajaran agama harus menjadi prioritas yang memiliki bobot yang lebih tinggi dibanding pelajaran lain. “Pendidikan agama adalah sesuatu yang tidak menarik, dan membosankan” itu adalah apa yang dirasakan oleh generasi muda saat ini. Jadi jangan mengajarkan agama seperti yang biasanya dilakukan, mengajarlah secara kreatif dan inovatif dan tidak membosankan — menyenangkan.  Negara harus menjunjung tinggi pengajar yang kreatif sehingga banyak orang mencontohnya. Bagaimana agar banyak yang tertarik? Beri gaji yang (sangat) tinggi kepada guru yang berprestasi yang kreatif dan inovatif kemudian dorong guru tersebut untuk melestarikannya. Tidak hanya pada bidang agama, bidang yang lain pun sangat penting. Adakah guru-guru yang kreatif dan inovatif? Jawabannya adalah banyak. Intinya kita harus memotivasi guru untuk mengajar dengan sebaik-baiknya. Kenapa harus guru? Karena semua orang sekolah. Karena itu buatlah sebenar-benarnya sekolah yang gratis-tis, gratis sekolahnya gratis pula atribut pendudukungnya, untuk mereka yang tidak mampu – miskin dan yang paling miskin.

Cara yang terbaik menurut saya adalah gunakan sistem poin kebaikan dan keburukan untuk guru. Poin kebaikan akan menambah pendapatannya sedangkan poin keburukan akan mengurangi pendapatannya. Yang memprotes kebijakan ini adalah mereka yang sering melakukan keburukan.

Siapa yang menilai guru? jangan gunakan kuisioner. Gunakan pengawas dari setiap pemerintahan daerah. Jadi ada pengawas yang profesional di setiap sekolah.

Insya Allah, kesadaran masyarakat akan membaik, dan bangsa ini akan maju pesat. Saya sangat yakin.

**) Referensi dari Nation and Character Building Melalui Pemahaman Wawasan Kebangsaan Otho H. Hadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s